Jakarta – Pasar aset kripto global menunjukkan tren penguatan yang signifikan seiring dengan kembalinya selera risiko para investor di tengah derasnya arus modal masuk ke instrumen Exchange Traded Fund (ETF) spot.
Data dari CoinMarketCap per Jumat, 25 September 2026, pukul 16.40 WIB menunjukkan harga Bitcoin (BTC) mencatatkan kenaikan sebesar 8,06% dalam sepekan terakhir ke level US$84.661,22 per koin.
Ethereum (ETH) juga mencatatkan performa positif dengan kenaikan sebesar 8,28% dalam periode yang sama, membawa harga aset kripto tersebut ke level US$2.709,73 per koin.
Ketahanan Bitcoin dinilai cukup impresif, terutama setelah mampu bangkit dari tekanan di bawah level US$76.000 menjadi menembus angka US$86.000 pada 21 September lalu.
Para analis menilai area US$80.000 kini telah bertransformasi menjadi level psikologis yang krusial bagi pergerakan harga Bitcoin ke depannya.
Pemulihan harga ini didorong oleh aksi short covering dan arus balik modal yang kuat ke instrumen ETF spot.
Catatan pasar menunjukkan bahwa pada 23 September, ETF Bitcoin berhasil mencatatkan arus masuk (inflow) sebesar US$346,9 juta, sementara ETF Ethereum menarik dana sebesar US$104,5 juta.
Meski demikian, pasar kripto diproyeksikan akan terus bergerak dalam skenario yang volatil hingga akhir tahun 2026.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menjelaskan bahwa pergerakan pasar aset digital akan sangat ditentukan oleh pertarungan antara arus modal masuk dan kondisi makroekonomi global.
“Secara keseluruhan, hingga akhir tahun, pasar akan bergerak di antara dua kekuatan utama: arus modal dan perkembangan adopsi yang mendukung, versus suku bunga tinggi, yield obligasi, ketidakpastian regulasi, dan potensi perubahan risk appetite,” ujar Yudhono, Jumat (25/9/2026).
Yudhono menambahkan bahwa dinamika pasar di sisa tahun ini akan sangat bergantung pada ketahanan likuiditas global dalam mengimbangi risiko makro yang masih membayangi.
“Jadi, arah pasar hingga akhir tahun akan sangat bergantung pada apakah arus modal institusional dan kondisi likuiditas mampu mengimbangi risiko makro serta ketidakpastian regulasi yang masih ada,” ucapnya.
Tantangan eksternal utama yang masih membayangi pasar adalah persistensi suku bunga Amerika Serikat dan yield Treasury 10 tahun yang bertahan di atas level 5%.
Dari sisi regulasi, perkembangan di Amerika Serikat tetap menjadi perhatian utama, terutama dengan adanya proposal aturan stablecoin berbasis GENIUS Act yang diajukan oleh The Fed pada 24 September.
Selain itu, volatilitas jangka pendek diprediksi akan meningkat akibat jatuhnya tempo kontrak opsi Bitcoin senilai hampir US$16 miliar yang jatuh pada hari ini, 25 September 2026.
Meskipun terdapat sentimen negatif terkait kegagalan pembahasan CLARITY Act di Senat AS pada pertengahan bulan ini, pasar kripto terbukti mampu menunjukkan daya serap yang cukup kuat terhadap tekanan tersebut.
Secara teknikal, Ethereum juga mendapatkan momentum positif setelah berhasil menembus area resistance di angka US$2.661 pasca periode konsolidasi yang panjang sejak akhir Agustus lalu.
















