Harga Minyak Naik, Kinerja Elnusa (ELSA) Diproyeksi Tumbuh Hingga 2027

Rayhan Akhari

Harga Minyak Naik, Kinerja Elnusa (ELSA) Diproyeksi Tumbuh Hingga 2027

Jakarta – PT Elnusa Tbk (ELSA) diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang tahun 2026 seiring dengan menguatnya tren harga minyak dunia.

Momentum kenaikan harga komoditas energi global tersebut telah memicu akselerasi aktivitas eksplorasi dan produksi migas di dalam negeri.

Peningkatan intensitas di sektor hulu energi ini secara langsung mengerek permintaan terhadap layanan jasa penunjang migas yang menjadi lini bisnis utama perseroan.

Kinerja positif tersebut tercermin dari laporan keuangan semester I-2026, di mana perseroan mencatatkan pendapatan mencapai Rp7,58 triliun atau tumbuh 8,9% secara tahunan.

Perolehan laba bersih perusahaan juga menunjukkan performa impresif dengan lonjakan sebesar 29,2% menjadi Rp435 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, EBITDA perusahaan tercatat meningkat 16,2% hingga menyentuh angka Rp862 miliar.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebutkan bahwa pertumbuhan aktivitas jasa migas telah memberikan kontribusi nyata terhadap profitabilitas perseroan.

Menurutnya, efektivitas operasional yang tercermin dalam perolehan laba tersebut membuktikan ketahanan model bisnis ELSA.

“Pertumbuhan aktivitas jasa migas mulai memberikan kontribusi positif terhadap profitabilitas perseroan,” ujar Nafan, Sabtu (26/9/2026).

Pihaknya mencatat bahwa hingga pertengahan tahun ini, Elnusa telah mengamankan kontrak baru senilai Rp11,6 triliun.

Besaran kontrak tersebut diperkuat dengan adanya carry forward contract yang mencapai Rp18,8 triliun.

Total nilai kontrak ini memberikan visibilitas pendapatan yang terukur bagi perusahaan untuk beberapa periode ke depan.

Posisi Elnusa sebagai bagian dari ekosistem Subholding Upstream Pertamina turut menjamin keberlanjutan basis permintaan jasa.

Potensi perolehan kontrak tambahan dinilai terbuka lebar seiring masifnya agenda pengeboran, workover, hingga survei seismik yang dilakukan Pertamina.

Nafan memproyeksikan pendapatan Elnusa sepanjang tahun 2026 berpotensi menembus angka Rp15,42 triliun.

Laba bersih perusahaan untuk tahun berjalan diprediksi mencapai Rp803 miliar.

Tren pertumbuhan ini diperkirakan berlanjut hingga 2027 dengan estimasi pendapatan mencapai Rp17,67 triliun dan laba bersih menembus Rp1,06 triliun.

Meski demikian, Nafan menekankan bahwa lonjakan harga minyak bukanlah satu-satunya penentu keberhasilan kinerja perusahaan.

Fondasi performa perseroan tetap bergantung pada tingkat utilisasi aset, volume aktivitas operasional, efisiensi internal, serta perolehan kontrak baru.

“Indikator yang perlu dicermati bukan hanya harga minyak, tetapi juga pertumbuhan order book, kontrak baru, utilisasi aset, aktivitas pengeboran, dan perkembangan margin ELSA,” jelas Nafan.

Investor juga diminta tetap mewaspadai risiko fluktuasi harga minyak yang drastis serta potensi penundaan proyek migas.

Selain itu, kenaikan beban operasional dan pemangkasan anggaran belanja modal oleh perusahaan migas menjadi faktor yang patut diantisipasi.

Mengingat berbagai variabel tersebut, Nafan memberikan rekomendasi wait and see bagi investor yang tertarik pada saham ELSA saat ini.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar