Jakarta – Pasar obligasi pemerintah Indonesia atau Surat Utang Negara (SUN) diproyeksikan mengalami pergerakan variatif pada perdagangan hari ini, Sabtu (26/9/2026).
Sentimen negatif dari pasar global yang dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (US Treasury) menjadi faktor utama penekan pasar domestik.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia turut memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih persisten.
Ekonom dan Analis Fixed Income, Ridwan Adi Gunawan, dalam risetnya pada Jumat (25/9/2026) memperkirakan imbal hasil SUN tenor 10 tahun akan bergerak di rentang 7,05% hingga 7,20%.
Proyeksi tersebut didasarkan pada perkembangan terkini di pasar global maupun domestik.
Tekanan pada pasar obligasi AS semakin nyata setelah data ekonomi menunjukkan ketahanan yang solid.
Klaim awal pengangguran AS dilaporkan turun menjadi 197.000, melampaui ekspektasi pasar yang mematok angka 200.000.
Kondisi ketenagakerjaan yang kuat ini memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat dalam jangka waktu lebih lama.
Lelang US Treasury tenor 7 tahun senilai USD 44 miliar juga mencatatkan permintaan yang lemah, sehingga menekan harga obligasi.
Akibatnya, yield US Treasury tenor 2 tahun naik 2 basis poin (bps) ke level 4,87%.
Sementara itu, yield tenor 10 tahun melonjak 7 bps ke posisi 5,18%.
Kenaikan yield obligasi tidak hanya terjadi di AS, tetapi juga merambat ke pasar global lainnya.
Yield obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun bahkan tercatat melonjak 9,1 bps ke level 3,08%, yang merupakan angka tertinggi sejak tahun 1996.
Di dalam negeri, dinamika pasar SUN menunjukkan penyesuaian harga yang cukup tajam pada beberapa tenor tertentu.
Tenor 5 tahun mencatat kenaikan yield sebesar 9,8 bps menjadi 6,95%.
Sebaliknya, yield tenor 1 tahun justru mengalami penurunan sebesar 6,4 bps ke level 6,59%.
Adapun untuk tenor 10 tahun, pergerakan cenderung stabil di level 7,09%.
Aktivitas perdagangan SUN outright terpantau didominasi oleh seri FR0110 dengan nilai transaksi mencapai Rp 4,17 triliun.
Selain itu, seri PBS040 mencatatkan transaksi sebesar Rp 3,29 triliun dan FR0109 sebesar Rp 3,04 triliun.
Tekanan eksternal juga berdampak pada nilai tukar rupiah yang terdepresiasi sebesar 0,57% ke level Rp 17.901 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi seiring dengan penguatan indeks DXY yang menembus level 101.
Dari sisi makroekonomi domestik, pertumbuhan uang beredar (M2) tercatat sebesar 8,2% secara tahunan (YoY) pada Agustus 2026.
Meskipun melambat tipis dari bulan sebelumnya, penyaluran kredit perbankan justru menunjukkan kinerja impresif dengan pertumbuhan 13,3% YoY mencapai Rp 9.019 triliun.
Kondisi likuiditas ini diharapkan mampu menopang stabilitas pasar di tengah ketidakpastian global.
Bagi pelaku pasar, Ridwan Adi Gunawan merekomendasikan untuk mencermati beberapa seri SUN yang dinilai menarik, yakni FR0064, FR0104, FR0091, FR0068, dan FR0111.


















