Rupiah Tertekan Mendekati Rp 18.000, Simak Sentimen Pemicu Utamanya

Ikhwan Setiawan

Rupiah Tertekan Mendekati Rp 18.000, Simak Sentimen Pemicu Utamanya

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian tertekan hingga mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis (1/10/2026).

Data Bloomberg mencatat posisi rupiah ditutup melemah 0,40% ke level Rp 17.966 per dolar AS dibandingkan sesi sebelumnya.

Pelemahan mata uang Garuda juga tercermin dalam kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang menempatkan rupiah di angka Rp 17.937 per dolar AS.

Posisi tersebut menunjukkan penurunan nilai sebesar 0,34% dari hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.877 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang domestik ini dipicu oleh penguatan dolar AS yang didorong oleh ketidakpastian kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Pasar global saat ini tengah melakukan kalkulasi ulang terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat menyusul rilis data inflasi terbaru.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa pelaku pasar tengah menyoroti data Personal Consumption Expenditures (PCE) inti AS periode Agustus 2026 yang tumbuh 0,2%.

“Data tersebut mendorong para pelaku pasar untuk memangkas secara tajam ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan Oktober. Probabilitas tersirat turun menjadi sekitar 34%, dari sebelumnya hampir 70% pada awal pekan,” ujar Ibrahim dikutip dari keterangan resminya, Kamis (1/10/2026).

Meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga melandai, pasar tetap bersikap waspada terhadap ketahanan ekonomi AS yang ditunjukkan melalui pertumbuhan belanja konsumen Agustus.

Kondisi ekonomi AS yang tangguh tersebut menjadi alasan mengapa imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor panjang tetap bertahan di level yang tinggi.

“Ketahanan tersebut turut menjaga imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor panjang tetap berada di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade,” jelas Ibrahim.

Di sisi lain, fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan sinyal positif melalui sektor manufaktur dan neraca perdagangan.

Data menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada September 2026 berhasil kembali ke zona ekspansi di level 52,4.

Angka tersebut merupakan perbaikan signifikan setelah pada bulan Agustus sempat terkontraksi di level 49,8.

Neraca perdagangan juga mencatatkan surplus sebesar US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026 yang ditopang oleh kinerja ekspor komoditas.

Ekspor tercatat mencapai US$ 26,61 miliar atau tumbuh 6,72% secara tahunan, dengan lonjakan signifikan pada ekspor nikel sebesar 51,67% dan aluminium sebesar 206,78%.

Sementara itu, inflasi domestik pada September 2026 tercatat berada di level 0,30% secara bulanan atau 3,28% secara tahunan.

Fokus pasar kini beralih pada rilis laporan ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan akan diumumkan pada Jumat (2/10/2026).

“Pasar akan mencermati laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada hari Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed,” tutur Ibrahim.

Untuk perdagangan besok, rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam rentang Rp 17.960 hingga Rp 18.030 per dolar AS.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar