Inflasi PCE AS Melandai, Imbal Hasil Obligasi Tetap Bertahan Tinggi

Ikhwan Setiawan

Inflasi PCE AS Melandai, Imbal Hasil Obligasi Tetap Bertahan Tinggi

Jakarta – Pasar obligasi Amerika Serikat menunjukkan dinamika yang signifikan pada Kamis (1/10) dengan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah tenor 10 tahun bertahan kokoh di kisaran 5,25 persen.

Angka tersebut menempatkan imbal hasil obligasi AS tetap berada di dekat level tertinggi yang terakhir kali dicapai pada tahun 2007.

Kondisi pasar ini dipengaruhi oleh respons investor terhadap serangkaian data ekonomi terbaru yang dirilis sepanjang pekan ini.

Berdasarkan data yang dihimpun Tradingeconomics pada Rabu (30/9), indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat naik sebesar 0,3 persen selama bulan Agustus.

Angka kenaikan tersebut berada di bawah ekspektasi pasar yang sebelumnya memprediksi pertumbuhan di level 0,4 persen.

Untuk PCE inti, peningkatan tercatat sebesar 0,2 persen, yang juga meleset dari perkiraan awal para analis ekonomi.

Secara tahunan, inflasi PCE utama terpantau berada di angka 3,4 persen, jauh lebih rendah dari estimasi konsensus yang mencapai 3,7 persen.

Berbeda dengan data inflasi, sektor pertumbuhan ekonomi justru menunjukkan performa yang cukup kuat.

Data final Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua menunjukkan ekonomi AS mampu tumbuh sebesar 2,2 persen.

Hasil ini mengalami revisi ke atas dari estimasi awal yang hanya memproyeksikan pertumbuhan sebesar 1,5 persen.

Laporan ketenagakerjaan dari ADP juga memberikan gambaran optimis mengenai kondisi ekonomi domestik AS.

Pertumbuhan lapangan kerja di sektor swasta pada bulan September dilaporkan melampaui ekspektasi awal para pelaku pasar.

Ketahanan ekonomi ini menjadi salah satu faktor utama yang menjaga imbal hasil obligasi tetap berada di level tinggi.

Selain itu, tekanan inflasi yang terus dipicu oleh kenaikan harga energi global memperumit kalkulasi para investor.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh sinyal kebijakan moneter yang cenderung hawkish dari bank sentral AS, The Federal Reserve.

Kebijakan tersebut memperkuat ekspektasi di kalangan pelaku pasar mengenai potensi kenaikan suku bunga lanjutan.

Namun, di tengah spekulasi tersebut, muncul pandangan berbeda dari otoritas moneter terkait langkah ke depan.

Presiden The Fed New York, John Williams, menyatakan bahwa Federal Reserve tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga lagi setelah kenaikan yang dilakukan awal bulan ini, seperti dikutip dari Tradingeconomics.

Saat ini, pasar keuangan mulai memperhitungkan peluang kurang dari 40 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Oktober mendatang.

Para pelaku pasar kini menanti arah kebijakan selanjutnya sambil terus memantau indikator ekonomi makro yang dirilis secara berkala.

Stabilitas imbal hasil obligasi diprediksi akan terus bergantung pada keseimbangan antara data inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS dalam beberapa bulan ke depan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar