Jakarta – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) secara resmi mengumumkan rencana strategis penambahan modal melalui mekanisme Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.
Perusahaan penerbangan nasional tersebut berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 124,35 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 25 per lembar saham.
Langkah korporasi ini menjadi bagian integral dari skema besar restrukturisasi penyehatan keuangan perseroan.
Manajemen GIAA menjelaskan bahwa aksi ini dilakukan untuk memfasilitasi proses inbreng lahan milik PT Angkasa Pura Indonesia (API) kepada entitas anak usaha, yakni PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI).
Proses tersebut merupakan tahapan krusial dalam rangkaian upaya perbaikan fundamental bisnis yang sedang dijalankan perusahaan.
“Harga pelaksanaan Rencana PMHMETD III akan ditetapkan dan diumumkan kemudian di dalam prospektus Rencana PMHMETD III,” demikian penjelasan manajemen dalam prospektus tertanggal 30 September 2026, dikutip Kamis (1/10/2026).
Setelah inbreng lahan rampung, saham GMFI yang dikuasai oleh API akan dialihkan kepada InJourney.
Selanjutnya, aset tersebut akan diteruskan kepada PT Danantara Asset Management (DAM) melalui mekanisme pembagian dividen dalam bentuk selain uang atau dividend in specie.
Manajemen GIAA memproyeksikan bahwa langkah ini akan memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan neraca keuangan perusahaan.
Perbaikan tersebut mencakup pemulihan laporan laba rugi serta optimalisasi pengelolaan aset yang berdampak langsung pada efisiensi operasional.
Berdasarkan data keuangan per 30 Juni 2026, inbreng saham GMFI terbukti mampu memperbaiki ekuitas konsolidasi menjadi negatif US$ 52,15 juta.
Sementara itu, posisi ekuitas tersendiri (standalone) Garuda Indonesia mencatatkan perbaikan yang lebih signifikan, yakni mencapai US$ 646,15 juta.
Dana yang terhimpun dari rights issue ini nantinya akan dialokasikan untuk dua tujuan utama.
Pertama, mendukung penyertaan modal non-tunai (inbreng) dari DAM ke dalam perusahaan guna memperkuat struktur permodalan.
Kedua, sisa dana emisi akan dimanfaatkan sebagai modal kerja untuk menunjang rencana transformasi bisnis jangka panjang.
Tahun 2026 ini, Garuda Indonesia memfokuskan strateginya pada fase stabilisasi dan pemulihan ketahanan operasional.
“Mulai tahun 2027 dan seterusnya, Garuda Indonesia Group akan secara bertahap melakukan perbaikan struktural yang mencakup aspek sumber daya manusia, proses, dan kapabilitas digital,” papar manajemen.
Dalam skema rights issue ini, PT Danantara Asset Management (DAM) telah menyatakan komitmen untuk melaksanakan haknya melalui skema inbreng.
Sementara bagi pemegang HMETD lainnya, pelaksanaan hak tetap dapat dilakukan melalui penyetoran modal secara tunai sesuai ketentuan yang berlaku.
Untuk memuluskan rencana tersebut, GIAA dijadwalkan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 6 November 2026 mendatang.
Pengumuman hasil RUPSLB rencananya akan disampaikan kepada publik pada 10 November 2026.
“Jangka waktu antara tanggal persetujuan RUPSLB sampai dengan tanggal pernyataan efektif dari OJK adalah tidak lebih dari 12 bulan,” tegas manajemen mengenai lini masa aksi korporasi tersebut.






















