Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan mengalami pemulihan terbatas pada kuartal IV 2026.
Meskipun secara historis pasar saham sering menunjukkan performa positif di akhir tahun, dinamika pasar saat ini dinilai jauh lebih menantang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Hingga perdagangan Jumat (2/10/2026), IHSG tercatat berada di level 6.036,88 dengan koreksi mencapai 30,18% secara year to date (YTD).
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa setelah sempat menguat pada kuartal III 2026, IHSG kembali tertekan dengan penurunan sekitar 6,6% sepanjang September 2026.
Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa momentum pasar saat ini jauh lebih lemah dibandingkan pertengahan kuartal III lalu.
“Memasuki awal Oktober tekanan juga belum sepenuhnya mereda,” ujar Rully sebagaimana dikutip dari keterangan resminya, Minggu (4/10/2026).
Menurutnya, tekanan terhadap IHSG dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik yang cukup kompleks.
Faktor eksternal utama mencakup kebijakan kenaikan suku bunga oleh The Fed yang masih agresif, tingginya imbal hasil US Treasury, serta penguatan dolar Amerika Serikat.
Situasi tersebut diperparah oleh fluktuasi harga minyak dan risiko geopolitik global yang menekan minat investor asing terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Kondisi ini membuat rupiah lebih rentan dan mengurangi appetite investor asing terhadap aset Indonesia,” jelas Rully.
Dari sisi domestik, meski fundamental ekonomi dinilai masih cukup resilien, pasar dihadapkan pada ketidakpastian kebijakan dan likuiditas yang cenderung ketat.
Rully mencatat bahwa likuiditas domestik saat ini mampu berperan sebagai penyangga, namun belum cukup kuat untuk menggantikan peran aliran modal asing pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Terkait prospek kuartal IV, ia memprediksi IHSG berpotensi bergerak dalam rentang 5.900 hingga 6.900.
Namun, ia menegaskan bahwa pemulihan yang terjadi kemungkinan besar bersifat selektif dan bukan reli yang meluas ke seluruh sektor.
Sektor perbankan diprediksi masih akan menjadi motor penggerak, terutama bagi emiten yang memiliki fondasi likuiditas dan sistem pendanaan yang kuat.
Investor diminta untuk lebih berhati-hati terhadap emiten perbankan yang memiliki posisi likuiditas lebih terbatas.
Rully pun mengingatkan agar pelaku pasar tidak hanya mengandalkan sentimen historis window dressing di akhir tahun.
Strategi investasi yang disarankan adalah berfokus pada perusahaan dengan neraca keuangan yang solid serta arus kas yang sehat.
“Investor sebaiknya fokus pada perusahaan dengan balance sheet kuat, cash flow yang sehat, dan earnings visibility yang relatif tinggi,” pungkasnya.


















