Simak Rekomendasi Saham Emiten Batubara: ITMG, AADI, PTBA, dan BUMI

Rayhan Akhari

Simak Rekomendasi Saham Emiten Batubara: ITMG, AADI, PTBA, dan BUMI

Jakarta – Sektor pertambangan batubara di Indonesia diprediksi bakal mempertahankan kinerja keuangan yang solid hingga penghujung tahun 2026.

Optimisme ini muncul seiring dengan kombinasi pengetatan pasokan di tingkat domestik serta pemulihan harga komoditas di pasar global.

Kendati demikian, para produsen batubara masih menghadapi tantangan signifikan terkait efisiensi operasional dan dinamika kuota produksi.

Para analis pasar modal telah mengeluarkan rekomendasi saham bagi investor untuk perdagangan Senin, 5 Oktober 2026.

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menjadi salah satu emiten yang disorot dengan rekomendasi buy dari analis UBS Global Research, Timothy Handerson, dengan target harga Rp 30.000 per saham.

Menurut Timothy, prospek ITMG didukung oleh harga jual rata-rata (ASP) yang relatif tinggi, yakni sekitar US$ 81 per ton pada paruh pertama 2026.

Namun, ia menekankan pentingnya perhatian ekstra terhadap sensitivitas biaya operasional perusahaan.

“Katalis utama ITMG hingga akhir tahun adalah kemampuan menjaga margin melalui volume dan efisiensi ketika biaya operasional meningkat,” ujar Timothy dikutip dari UBS Global Research.

Data menunjukkan bahwa pada kuartal II-2026, cash cost perusahaan meningkat 4% secara kuartalan menjadi US$ 68 per ton, yang dipicu oleh kenaikan biaya bahan bakar.

Sementara itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mendapatkan rekomendasi buy dari Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, dengan target harga Rp 3.320 per saham.

Sukarno menilai kinerja PTBA sangat impresif setelah mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 218% secara tahunan menjadi Rp 2,7 triliun pada semester I-2026.

Kenaikan ASP sebesar 20% serta penurunan stripping ratio menjadi faktor kunci yang memberikan operating leverage bagi perusahaan.

“Faktor yang perlu diperhatikan adalah realisasi volume, biaya produksi, serta kemampuan mempertahankan margin apabila harga batubara mulai mengalami normalisasi,” jelas Sukarno melalui laporan Kiwoom Sekuritas.

Di sisi lain, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatatkan momentum pendapatan yang kuat dengan target harga Rp 12.800 per saham dari analis KB Valbury Sekuritas, Adolf Setiadi.

AADI berhasil menekan cash cost hingga ke level US$ 49 per ton berkat efisiensi skala ekonomi dan stripping ratio yang lebih rendah dari target awal.

Adolf menyatakan bahwa potensi pertumbuhan laba pada semester II masih terbuka lebar selama harga komoditas bertahan di level stabil.

Terakhir, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mendapat rekomendasi buy dari analis Sinarmas Sekuritas, Kenny Shan, dengan target harga Rp 290 per saham.

Kenny menekankan bahwa investor harus mencermati realisasi produksi dan efisiensi biaya operasional perusahaan secara mendalam.

“Investor perlu mencermati terutama realisasi produksi, kualitas batubara, cash cost, stripping ratio, serta kontribusi anak usaha terhadap earnings,” ungkap Kenny dalam analisisnya di Sinarmas Sekuritas.

Secara keseluruhan, sektor ini menunjukkan ketahanan yang kuat, namun disiplin dalam manajemen biaya menjadi penentu utama bagi keberlangsungan profitabilitas emiten hingga akhir tahun.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar