Jakarta – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan optimisme terhadap stabilisasi pasokan dan harga beras nasional, menyusul penurunan inflasi beras pada Agustus 2025. Meskipun sempat terjadi kelangkaan beras premium di sejumlah ritel modern, Bapanas memastikan pasokan akan kembali normal karena penggilingan padi tengah menyesuaikan standar kualitas produk. Penyesuaian ini dipicu oleh kasus beras oplosan sebelumnya, mendorong disiplin produsen.
Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menjelaskan bahwa kelangkaan sementara ini terjadi karena penggilingan padi berupaya memenuhi standar label beras premium yang ketat. Standar tersebut meliputi broken maksimal 15 persen, kadar air 14 persen, dan derajat sosoh minimal 95 persen. Arief meyakini, begitu standar terpenuhi, stok beras akan segera dikirimkan kembali ke pasar modern. Pernyataan ini disampaikannya pada Rabu, 3 September 2025.
Arief menekankan, terbongkarnya praktik beras oplosan beberapa waktu lalu menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pihak. Insiden tersebut mendorong penggilingan padi untuk lebih disiplin dalam memproduksi beras sesuai dengan keterangan pada label produk.
Pemerintah sendiri terus gencar melakukan intervensi untuk menstabilkan pangan. Program-program seperti penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah, serta bantuan pangan beras menjadi strategi utama.
Beras yang disalurkan dalam program pemerintah ini berasal dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog. Saat ini, stok CBP mencapai 3,9 juta ton, jumlah yang dianggap sangat kuat untuk menopang pengendalian inflasi dan stabilitas harga pangan nasional.
Efektivitas intervensi ini tercermin dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS). Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismatini, pada Senin, 1 September 2025 lalu melaporkan bahwa beras memberikan andil inflasi sebesar 0,03 persen pada Agustus 2025, dengan inflasi bulanan 0,73 persen.
Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan inflasi beras pada Juli 2025 yang mencapai 1,35 persen. Penurunan ini salah satunya dipengaruhi oleh penyaluran bantuan pangan beras periode Juni-Juli 2025 sebanyak 365 ribu ton kepada 18,27 juta Penerima Bantuan Pangan (PBP), dengan realisasi penyaluran mencapai 98,23 persen.
Selain itu, distribusi beras SPHP yang terus digencarkan juga berperan besar dalam menopang stabilitas pasokan beras di pasaran. Hingga akhir Agustus 2025, realisasi penyaluran SPHP telah mencapai 303 ribu ton. Pemerintah menargetkan 1,3 juta ton penyaluran SPHP untuk periode Juli-Desember 2025 melalui berbagai kanal distribusi, termasuk BUMN pangan, pemerintah daerah, BUMD, asosiasi, UMKM, hingga ritel modern dan pasar tradisional.
Arief menegaskan bahwa beras merupakan komoditas strategis yang sangat sensitif terhadap inflasi. Oleh karena itu, Bapanas berkomitmen untuk terus memastikan ketersediaan dan keterjangkauan harga demi menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas pangan nasional tetap terjamin.




















