Aksi Jual Saham Teknologi Seret S&P 500 dan Nasdaq Melemah

persen

New York – Pasar saham Amerika Serikat mengalami tekanan jual signifikan pada perdagangan Selasa (23/6/2026), yang menyeret indeks S&P 500 dan Nasdaq ke level terendah dalam lebih dari sepekan. Koreksi tajam ini dipicu oleh aksi ambil untung massal di sektor semikonduktor, di tengah kekhawatiran investor terhadap kebijakan moneter yang lebih agresif dari bank sentral AS, The Fed, serta tingginya biaya belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang dibiayai melalui utang.

Hingga pukul 11:15 waktu setempat, indeks S&P 500 terkoreksi 83,46 poin atau 1,12 persen ke level 7.389,33, sementara Nasdaq Composite anjlok 444,00 poin atau 1,70 persen ke posisi 25.722,61. Jika tren pelemahan ini berlanjut hingga penutupan pasar, Nasdaq 100 terancam mengalami penyusutan nilai kapitalisasi pasar hingga lebih dari US$ 1 triliun.

Sektor teknologi menjadi episentrum aksi jual, dengan Indeks Semikonduktor Philadelphia SE ambruk hingga 7,6 persen. Saham-saham produsen chip mencatatkan penurunan drastis, antara lain Intel, Marvell Technology, dan Advanced Micro Devices (AMD) yang melemah di kisaran 3,8 persen hingga 9 persen. Tekanan lebih berat dirasakan oleh Micron Technology dan SanDisk, yang masing-masing merosot 11 persen dan 12,6 persen. Padahal, kedua emiten tersebut merupakan saham dengan kinerja terbaik di indeks S&P 500 sepanjang tahun ini.

Analis Strategi Investasi di Baird, Ross Mayfield, menjelaskan bahwa koreksi ini merupakan bagian dari aksi ambil untung setelah akumulasi posisi beli yang terlalu padat pada sektor teknologi dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, penurunan ini bersifat teknis dan tidak berkaitan langsung dengan fundamental perkembangan teknologi AI, melainkan dipicu oleh perubahan sentimen pasar yang merespons arus dana keluar.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average menunjukkan pergerakan yang lebih stabil dengan kenaikan tipis 0,03 persen ke level 51.727,10. Sementara itu, Indeks Volatilitas CBOE (VIX) yang mencerminkan kecemasan pasar melonjak 2,3 poin ke level 19,58, posisi tertinggi dalam sepekan terakhir.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga kedua pada Desember mendatang, menyusul munculnya proyeksi kebijakan moneter yang lebih ketat di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh. Ketidakpastian harga minyak serta kompetisi likuiditas akibat penawaran umum perdana (IPO) skala besar turut menambah volatilitas pasar.

Meski sektor teknologi tertekan, indeks S&P 500 secara agregat masih mencatatkan jalur pertumbuhan kuartalan terkuat dalam enam tahun terakhir. Hal ini didukung oleh laporan laba emiten yang solid dan meredanya ketegangan di Timur Tengah. Terjadi pula rotasi sektor di mana investor beralih ke saham yang lebih defensif, seperti sektor consumer staples yang menguat 1,9 persen. Saham SpaceX tercatat rebound sebesar 2,1 persen, sementara emiten perangkat lunak seperti ServiceNow, Adobe, dan Salesforce berhasil mencatatkan penguatan di tengah upaya pasar mencari keseimbangan baru. Fokus investor kini tertuju pada rilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) pada Kamis mendatang sebagai acuan utama arah kebijakan moneter ke depan.

Rekomendasi