Abu Dhabi – Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah di Uni Emirat Arab (UEA) menjadi sasaran serangan pesawat tak berawak atau drone pada Minggu (17/5). Insiden ini memicu kebakaran di area generator listrik luar perimeter, namun otoritas setempat memastikan tidak ada kebocoran material radioaktif maupun korban jiwa.
Otoritas Federal untuk Regulasi Nuklir UEA mengonfirmasi bahwa tingkat keselamatan radiologis tetap terjaga. Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional menyatakan generator diesel darurat kini menyuplai daya untuk unit 3 pembangkit tersebut dan mereka terus memantau perkembangan situasi dengan ketat.
Kementerian Pertahanan UEA mengungkapkan bahwa serangan tersebut melibatkan beberapa drone yang diluncurkan dari perbatasan barat. Selain drone yang menghantam lokasi pembangkit, dua unit lainnya berhasil diidentifikasi dan ditangani oleh sistem pertahanan negara.
Pemerintah UEA mengecam keras serangan ini dan menyebutnya sebagai eskalasi berbahaya, baik yang dilakukan oleh pelaku utama maupun proksinya. Saat ini, tim investigasi tengah bekerja untuk melacak asal-usul serangan tersebut.
Bersamaan dengan insiden di UEA, Arab Saudi melaporkan keberhasilan mereka mencegat tiga drone yang memasuki wilayah udara dari arah Irak. Riyadh menegaskan akan mengambil langkah operasional tegas guna melindungi kedaulatan dan keamanan nasionalnya.
Serangan ini terjadi di tengah ketegangan yang masih menyelimuti kawasan Teluk, meski gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran telah diberlakukan sejak April lalu. Drone yang diluncurkan dari Irak belakangan ini dilaporkan sering menargetkan infrastruktur vital di negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi dan Kuwait.
Sejak konflik yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, eskalasi militer kerap menyasar pangkalan militer AS serta infrastruktur sipil dan energi di wilayah tersebut. Meskipun upaya diplomatik terus dilakukan, posisi Washington dan Teheran hingga kini masih berseberangan terkait program nuklir dan akses Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump melalui unggahannya memberikan peringatan keras kepada Iran terkait situasi ini. Trump dijadwalkan akan menggelar pertemuan dengan para penasihat keamanan nasional pada Selasa (19/5) untuk membahas opsi tindakan militer lebih lanjut.
Menanggapi ancaman tersebut, juru bicara angkatan bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi, menyatakan bahwa jika ancaman AS dilaksanakan, Washington akan menghadapi skenario agresif yang mengejutkan dan terperosok ke dalam konflik yang lebih dalam.
























