Jakarta – Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah setelah mata uang Garuda menyentuh level terendah sepanjang sejarah di angka Rp17.128 per dolar AS pada Senin (13/4) pagi. Posisi tersebut mencatatkan pelemahan sebesar 24 poin atau 0,14 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, memastikan bank sentral akan terus hadir di pasar untuk meredam gejolak.
“Bank Indonesia selalu akan ada di pasar. Kita terus akan menjaga stabilitas daya rupiah dengan berbagai instrumen yang kita miliki,” ujar Destry di Jakarta, Senin (13/4).
Destry menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang tidak hanya dialami oleh Indonesia. Sejumlah negara lain, seperti Korea Selatan, Thailand, dan Filipina, juga menghadapi kondisi serupa akibat ketidakpastian global.
Sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu, nilai tukar rupiah tercatat telah melemah sekitar 1,9 persen.
“Pergerakan nilai tukar ini kita tidak sendirian. Beberapa negara mengalami hal yang sama,” tambahnya.
Untuk menjaga stabilitas, BI mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter. Intervensi dilakukan secara aktif baik di pasar spot maupun pasar derivatif, termasuk Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) dan Non Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.
BI juga terus memperluas basis pelaku di pasar luar negeri. Destry mencontohkan, tim BI langsung merespons ketika terjadi lonjakan pergerakan rupiah di pasar NDF yang sempat menembus angka Rp17.100 meski belum ada transaksi riil.
Selain itu, BI memastikan pengawasan pasar dilakukan selama 24 jam penuh. Pemantauan dimulai saat pasar Asia seperti Singapura dan Hong Kong dibuka, hingga berlanjut ke pasar Eropa dan Amerika Serikat setelah pasar domestik tutup.
“Tentunya kita mengoptimalkan keberadaan kantor perwakilan kami yang di luar negeri, seperti di London,” pungkasnya.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp17.128 per dolar AS pada perdagangan Senin (13/4) pagi. Posisi ini mencatatkan pelemahan sebesar 24 poin atau 0,14 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya, sekaligus menjadi rekor terendah sepanjang sejarah.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa bank sentral berkomitmen penuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pihaknya akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen moneter yang dimiliki.
“Bank Indonesia selalu ada di pasar. Kami terus menjaga stabilitas daya beli rupiah dengan berbagai instrumen yang kami miliki,” ujar Destry di Jakarta, Senin (13/4).
Destry menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang tidak hanya dialami oleh Indonesia. Sejumlah negara lain, seperti Korea Selatan, Thailand, dan Filipina, juga menghadapi kondisi serupa. Sejak konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mencuat pada akhir Februari lalu, rupiah tercatat melemah sekitar 1,9 persen.
Untuk menjaga stabilitas, BI melakukan intervensi di pasar spot maupun pasar derivatif. Bank sentral aktif masuk ke pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta Non Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore. Selain itu, BI juga memperluas basis pelaku di pasar luar negeri.
BI memastikan pengawasan pasar dilakukan selama 24 jam penuh. Pemantauan dimulai saat pasar Asia dibuka, kemudian berlanjut ke pasar Eropa hingga Amerika Serikat.
“Kami mengoptimalkan keberadaan kantor perwakilan di luar negeri, seperti di London dan New York. Kami terus menjaga likuiditas di pasar,” pungkasnya.





















