Jakarta – Harga Bitcoin (BTC) saat ini menghadapi tantangan signifikan dengan menguji level psikologis di angka US$ 60.000. Berdasarkan data CoinMarketCap per Rabu (10/6) pukul 13.15 WIB, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini diperdagangkan di kisaran US$ 61.235, mencatatkan pelemahan sebesar 8,52% dalam sepekan terakhir dan penurunan mencapai 24,2% selama satu bulan ke belakang.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa tekanan yang menekan harga Bitcoin tidak dipicu oleh satu variabel tunggal. Fenomena ini merupakan dampak akumulatif dari berbagai faktor, mulai dari dinamika makroekonomi global, arus keluar dana investasi aset digital, aksi ambil untung oleh investor, hingga pergeseran minat pasar ke kelas aset lain yang dianggap lebih menjanjikan dalam jangka pendek.
Dari sisi makroekonomi, sentimen negatif muncul setelah rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 172.000 pekerjaan pada Mei 2026, dengan tingkat pengangguran yang tetap stabil di angka 4,3%. Data yang kuat ini memicu kekhawatiran pasar bahwa bank sentral AS, The Fed, akan menunda atau memperkecil peluang pemangkasan suku bunga acuan. Kondisi suku bunga tinggi yang bertahan lama cenderung membuat likuiditas di pasar aset berisiko, termasuk kripto, menjadi lebih terbatas.
Tekanan juga terlihat jelas pada arus dana institusional. Data dari CoinShares mencatat bahwa produk investasi aset digital global mengalami arus keluar dana atau outflow sebesar US$ 1,67 miliar dalam sepekan hingga 1 Juni 2026. Bitcoin menjadi kontributor utama dari angka tersebut dengan outflow mencapai US$ 1,44 miliar. Secara kumulatif, total arus keluar dalam tiga pekan terakhir telah menyentuh angka US$ 4,21 miliar, yang mengindikasikan bahwa investor institusional sedang mengambil sikap lebih defensif atau berhati-hati terhadap pasar kripto.
Selain itu, terjadi rotasi modal di mana sebagian investor global mulai mengalihkan portofolio mereka ke pasar saham, khususnya sektor teknologi, semikonduktor, dan perusahaan yang bergerak di bidang kecerdasan buatan (AI). Meskipun perpindahan dana ke saham bukan merupakan faktor tunggal penyebab pelemahan, hal ini memberikan tekanan tambahan pada pergerakan harga Bitcoin.
Antony menegaskan bahwa kenaikan harga Bitcoin yang terjadi sebelumnya tanpa dukungan arus dana yang kuat kerap dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung. Hal ini membuat reli harga menjadi rentan dan sulit untuk bertahan dalam jangka panjang. Meski pasar sedang dalam tekanan, investor ritel disarankan untuk tetap tenang. Bagi investor jangka panjang, fluktuasi harga saat ini dinilai sebagai peluang untuk melakukan akumulasi bertahap dengan strategi dollar cost averaging (DCA).
Untuk prospek jangka pendek, level US$ 60.000 menjadi penentu utama. Jika Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, potensi pemulihan ke rentang US$ 65.000 hingga US$ 70.000 masih terbuka lebar. Sebaliknya, jika level support tersebut ditembus, risiko koreksi lanjutan menuju area US$ 55.000 hingga US$ 58.000 harus diantisipasi oleh para pelaku pasar. Pemulihan tren ke depan akan sangat bergantung pada membaiknya arus dana institusional, stabilisasi kondisi makroekonomi, serta peningkatan volume beli di pasar aset berisiko.























