Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang signifikan pada penutupan perdagangan Selasa (22/9/2026).
Indeks terkoreksi tajam sebesar 107,68 poin atau setara dengan 1,69% hingga berakhir di level 6.277,04.
Data perdagangan menunjukkan sentimen negatif mendominasi pasar, dengan rincian 533 saham mencatatkan penurunan harga.
Sementara itu, hanya 139 saham yang mampu bertahan di zona hijau dan 118 saham lainnya stagnan.
Di tengah kondisi pasar yang sedang tertekan, para analis pasar modal memberikan pandangan teknikal terhadap sejumlah emiten untuk perdagangan Rabu (23/9/2026).
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi salah satu saham yang disorot setelah ditutup melemah 4,39% ke level Rp 980 per saham pada sesi sebelumnya.
Analisis teknikal menunjukkan munculnya pola three black crows pada pergerakan saham DSSA.
Indikator Relative Strength Index (RSI) terpantau melemah, meskipun volume perdagangan mengalami peningkatan.
“Stochasticnya potensi golden cross,” ujar Achmad Yaki dari BCA Sekuritas dalam analisisnya.
Berdasarkan kondisi tersebut, investor disarankan untuk melakukan Trading Buy dengan level support di Rp 920 dan resistance di Rp 1.115.
Emiten besar lainnya, PT Astra International Tbk (ASII), juga berada dalam fase tekanan setelah ditutup turun 0,83% ke harga Rp 4.780 per saham.
Pergerakan harga saham ASII saat ini dinilai sedang membentuk fase bearish consolidation.
Kondisi tersebut dipertegas oleh indikator Stochastic KD dan RSI yang memberikan sinyal negatif bagi para pelaku pasar.
“Pergerakan harga ASII membentuk fase bearish consolidation, didukung Stochastics KD dan RSI yang menunjukkan sinyal negatif,” ungkap Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas.
Untuk saham ASII, investor direkomendasikan untuk melakukan Hold dengan memperhatikan support di level Rp 4.720 dan resistance di Rp 4.990.
Di sisi lain, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) menunjukkan sinyal teknikal yang berbeda setelah melemah 2,42% ke level Rp 404 pada perdagangan kemarin.
Tekanan jual pada saham TOWR dinilai mulai terbatas seiring dengan penurunan volume transaksi.
Indikator RSI emiten ini pun terpantau sudah mendekati area oversold atau jenuh jual.
“Saat ini juga terdapat support area di rentang level Rp 386-Rp 394, maka jika terjadi technical rebound dapat buy on weakness dengan menuju resistance Rp 430,” papar Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Namun, para pelaku pasar tetap diminta untuk waspada dan membatasi risiko.
“Batasi jika harga breakdown support Rp 380,” tegas Oktavianus Audi.
Strategi buy on weakness menjadi rekomendasi utama untuk saham TOWR dengan batasan support di Rp 380 dan resistance di Rp 430.


















