BPS Ungkap Penyebab Harga Beras Naik di 111 Daerah

persen

bps-ungkap-biang-kerok-harga-beras-naik-di-111-daerah-pada-mei-ini
BPS Ungkap Biang Kerok Harga Beras Naik di 111 Daerah pada Mei Ini

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap sejumlah faktor yang membuat harga beras naik di 111 kabupaten dan kota pada Mei 2026. Kenaikan ini terjadi karena harga di tingkat distributor ikut terkerek, stok mulai menipis, dan beberapa wilayah belum memasuki masa panen.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan kenaikan harga beras yang terekam di daerah banyak dipengaruhi kondisi pasokan dari distributor. Selain itu, sebagian wilayah juga masih menunggu masa panen sehingga jumlah beras di pasar terbatas.

“Kenapa, karena fenomenanya yang kami tangkap dari BPS daerah adalah kenaikan harga dari distributor,” kata Amalia atau Winny dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (18/5).

“Dan ini kenaikan di tingkat petani Jembrana, Badung, Gianyar, dan Bali, dan juga harga dari distributornya mengalami kenaikan,” lanjutnya.

BPS mencatat rata-rata harga beras nasional pada minggu kedua Mei 2026 berada di level Rp15.325 per kilogram, naik tipis 0,04 persen dari April 2026 yang sebesar Rp15.286 per kilogram.

Secara nasional, kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras terjadi di 111 kabupaten dan kota atau sekitar 30,83 persen wilayah Indonesia.

Kabupaten Intan Jaya menjadi daerah dengan harga beras tertinggi, yakni Rp48.606 per kilogram. Di bawahnya ada Kabupaten Puncak sebesar Rp45 ribu per kilogram, Kabupaten Puncak Jaya Rp32.404 per kilogram, dan Kabupaten Tolikara Rp32.404 per kilogram.

Amalia menjelaskan, penyebab kenaikan harga di tiap daerah tidak sama. Di Kota Denpasar, inflasi beras secara bulanan mencapai 2,76 persen dengan andil 0,11 persen. Kenaikan itu dipicu oleh harga distributor yang ikut naik.

Di Bali, BPS daerah juga mencatat harga di tingkat petani naik di Jembrana, Badung, Gianyar, dan Bangli. Di saat yang sama, harga beras dari distributor luar Bali turut meningkat.

Sementara itu, di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, inflasi beras bulanan mencapai 6,54 persen dengan andil inflasi 0,37 persen.

“Fenomenanya karena stok menipis, kemudian ada di situ belum panen karena memang beras masih belum panen sehingga barang yang tersedia di pasar masih relatif sedikit,” ujar Amalia.

Kondisi serupa juga terjadi di Kota Palangkaraya. Pasokan beras lokal di wilayah itu masih terbatas karena sejumlah varietas padi belum panen. Di sisi lain, harga beras yang datang dari Pulau Jawa juga ikut naik.

Di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, inflasi beras tercatat 2,76 persen secara bulanan. BPS menyebut kenaikan dipengaruhi harga gabah yang meningkat serta pasokan dari pemasok yang terbatas.

Kenaikan harga beras juga terjadi di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, yang mencatat inflasi bulanan 3,70 persen. Meski sebagian wilayah mulai panen, pasokan gabah dan beras dinilai masih sedikit karena banyak daerah lain belum memasuki masa panen.

“Kalau tidak salah nanti sekitar menurut hasil perkiraan dari KSA (kerangka sampel area) survei produksi padi kami, memang stok kemungkinan akan naik di bulan Juni, Mei-Juni,” kata Amalia.

Dalam paparannya, Papua Barat menjadi provinsi dengan harga beras rata-rata tertinggi, yakni Rp17.815 per kilogram. Disusul Papua Selatan sebesar Rp17.229 per kilogram dan Maluku Rp17.363 per kilogram.

Adapun harga beras terendah tercatat di Banten sebesar Rp13.739 per kilogram dan Jawa Barat Rp13.811 per kilogram. BPS juga mencatat kenaikan IPH beras tertinggi terjadi antara lain di Kabupaten Mahakam Ulu, Kabupaten Teluk Bintuni, dan Kabupaten Paser.

Rekomendasi