Jakarta – Ekonom senior Chatib Basri menyoroti pentingnya menjaga kepercayaan investor terhadap keberlanjutan fiskal Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global. Menurutnya, keraguan pasar saat ini menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah.
Chatib mengungkapkan bahwa sekitar 23 persen pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya risiko fiskal yang tercermin dalam credit default swap (CDS). Ia menekankan bahwa masalah utama yang dihadapi Indonesia saat ini adalah confidence risk.
“Artinya saya bisa bilang bahwa soal kita itu adalah soal confidence risk. Jadi kalau isu ini di-address, sebetulnya ada harapan ini bisa diperbaiki,” ujar Chatib dalam Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa (9/6).
Untuk mengatasi tekanan fiskal tersebut, Chatib menilai pemerintah memiliki ruang gerak yang terbatas. Ia menyebutkan bahwa seorang Menteri Keuangan hanya memiliki tiga opsi kebijakan dasar, yakni menaikkan penerimaan, memangkas belanja, atau menambah utang.
“Sebetulnya tugas dari Menteri Keuangan itu sangat gampang. Dia hanya punya opsi tiga hal, naikkan, potong, pinjam. Itu, hanya tiga itu,” jelasnya.
Namun, ia menegaskan bahwa menaikkan pajak saat ini bukanlah langkah realistis karena berisiko menekan daya beli masyarakat dan aktivitas usaha. Sementara itu, opsi menambah utang juga dinilai kurang ideal akibat tingginya suku bunga global yang membuat biaya pinjaman menjadi sangat mahal.
Oleh karena itu, Chatib menyarankan pemerintah untuk melakukan rasionalisasi belanja negara secara selektif sebagai langkah paling masuk akal.
“Maka opsi yang paling mungkin itu adalah opsi tiga. Cut the spending selectively,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kemampuan pemerintah dalam berutang tidak hanya bergantung pada rasio utang terhadap PDB. Pemerintah juga harus memperhatikan kemampuan penerimaan negara dalam membayar bunga dan cicilan utang, terutama mengingat rasio pajak Indonesia yang masih tergolong rendah.





















