IHSG Menguat, Saham Emiten Batu Bara Mulai Bangkit Kembali

persen

Jakarta – Saham-saham sektor batu bara kembali mencatatkan penguatan pada perdagangan sesi pertama Jumat (22/5/2026), setelah sempat mengalami tekanan jual dalam dua hari berturut-turut. Pemulihan ini turut membawa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bangkit ke zona hijau dengan kenaikan 0,30% ke level 6.113,44.

Meski sempat dibuka di zona merah, indeks terus bergerak di rentang 5.966,86 hingga 6.135,12. Data RTI Infokom mencatat sebanyak 332 saham menguat, sementara 350 saham terkoreksi dengan total kapitalisasi pasar mencapai Rp10.593,55 triliun.

Kenaikan signifikan terjadi pada emiten batu bara yang memiliki pangsa ekspor lebih dari 50%. Saham PT Harum Energy Tbk. (HRUM) memimpin penguatan dengan lonjakan 12,68% ke posisi Rp800. Selain itu, PT Indika Energy Tbk. (INDY) naik 3,57%, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) menguat 3,05%, serta PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) tumbuh 3,86%.

Penguatan ini menjadi respons balik pasar setelah sentimen negatif terkait kebijakan ekspor satu pintu yang diumumkan Presiden Prabowo pada 20 Mei 2026. Kebijakan tersebut sempat memicu kepanikan investor dan menekan harga saham sektor energi selama dua hari sebelumnya.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa fluktuasi pasar saat ini dipicu oleh ketidakpastian implementasi kebijakan yang menciptakan risiko premi. Menurutnya, terdapat tiga tantangan utama bagi emiten, yakni tekanan harga jual rata-rata (ASP), risiko selisih kurs, serta potensi biaya tambahan dari Danantara yang dapat menggerus margin laba.

Namun, dalam jangka panjang, kebijakan ini berpotensi memberikan peluang akses pasar global yang lebih luas serta stabilisasi harga melalui pengurangan persaingan antar eksportir lokal. Abida menyarankan investor untuk tetap selektif dan memprioritaskan emiten dengan struktur biaya rendah.

Senada dengan hal tersebut, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menyarankan investor untuk melakukan akumulasi selektif pada perusahaan dengan neraca keuangan kuat dan bisnis yang terdiversifikasi.

Wafi merekomendasikan emiten yang dinilai lebih defensif seperti ITMG dan ADRO untuk menghadapi volatilitas jangka pendek. Sementara itu, investor diimbau untuk bersikap menunggu (wait and see) terhadap emiten dengan margin tipis dan tingkat utang tinggi hingga regulasi teknis kebijakan ekspor tersebut benar-benar jelas.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi adalah tanggung jawab pembaca.

Rekomendasi