Jakarta – Jakarta Kreatif Festival (JKF) 2026 yang berlangsung pada 4–5 Juli di Istora Senayan menjadi titik balik strategis bagi ibu kota dalam merumuskan ulang identitas ekonominya.
Perhelatan tahun ini mencatatkan lonjakan transaksi yang signifikan, mencapai angka Rp 55 miliar, melampaui capaian tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp 21 miliar.
Peningkatan nilai transaksi ini menjadi sinyal kuat bahwa ekonomi kreatif telah bertransformasi dari sekadar sektor pelengkap menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru bagi Jakarta.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menegaskan bahwa festival ini merupakan gerakan kolektif untuk memperkuat sektor riil melalui pengembangan ekonomi kreatif.
“Jakarta Kreatif Festival bukan sekadar festival, tetapi sebuah gerakan bersama untuk menggerakkan sektor riil di wilayah DKI Jakarta,” ujar Iwan dalam pidato pembukaan, dikutip dari laman resmi Bank Indonesia Jakarta, (4/7/2026).
Penyelenggaraan JKF 2026 melibatkan 67 lembaga dan instansi yang berkolaborasi menghadirkan 377 tenant, mencakup pelaku UMKM sektor kuliner, fesyen, kriya, hingga layanan edukasi.
Sebanyak 15 ribu pengunjung hadir selama dua hari perhelatan untuk berinteraksi dalam ekosistem yang menggabungkan pameran produk lokal dengan digitalisasi sistem pembayaran.
Di lapangan, para pelaku usaha kini semakin mengandalkan QRIS sebagai metode transaksi utama, menggantikan ketergantungan pada uang tunai yang semakin jarang digunakan masyarakat.
Seorang pengunjung, Ando (40), mengaku bahwa kemudahan sistem pembayaran digital membuat transaksi di berbagai bazar Jakarta menjadi jauh lebih praktis dan efisien.
“Sekarang saya hampir tidak pernah membawa uang tunai. Mau ke festival atau beli makanan kaki lima, semuanya sudah bisa pakai QRIS,” ungkapnya, dikutip dari Katadata.co.id, (4/7/2026).
Transformasi ekonomi ini juga mendapatkan apresiasi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai langkah krusial menghadapi masa depan kota pasca-ibu kota.
Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Uus Kuswanto, menyatakan bahwa momentum JKF sangat strategis dalam menyongsong usia lima abad kota Jakarta.
“Momentum JKF menjadi semakin strategis menyongsong lima Abad Kota Jakarta dan transformasi menuju kota global,” kata Uus, dikutip dari Katadata.co.id, (4/7/2026).
Senada dengan hal tersebut, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, menilai pendekatan ini membuktikan bahwa pemberdayaan UMKM dan percepatan digitalisasi dapat berjalan beriringan untuk meningkatkan daya saing warga.
“JKF dapat mendorong UMKM naik kelas, memperluas pemanfaatan pembayaran digital, serta meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat,” jelas Filianingsih, dikutip dari Katadata.co.id, (4/7/2026).
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, turut menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan komunitas kreatif dalam memperkokoh posisi Jakarta di panggung internasional.
“Jakarta pada usia 499 tahun terus tumbuh melalui ide, inovasi, dan sinergi seluruh elemen masyarakat,” ujar Pramono, dikutip dari Katadata.co.id, (4/7/2026).
Ke depan, tantangan bagi Jakarta adalah memastikan semangat kolaborasi dalam festival ini dapat terus berlanjut menjadi ekosistem yang hidup sepanjang tahun.
























