Ekonomi Tumbuh 0,5%, Nilai Tukar Poundsterling Bangkit ke US$ 1,33

Ikhwan Setiawan

Ekonomi Tumbuh 0,5%, Nilai Tukar Poundsterling Bangkit ke US$ 1,33

Jakarta – Nilai tukar mata uang poundsterling (GBP) menunjukkan tren pemulihan dengan bergerak mendekati level US$ 1,33 pada perdagangan Kamis (1/10/2026).

Posisi ini mencatatkan perbaikan signifikan setelah mata uang Inggris tersebut sempat terperosok ke titik terendah dalam tiga bulan terakhir di level US$ 1,32 pada awal pekan ini.

Dinamika pasar valuta asing tersebut dipicu oleh rilis data ekonomi domestik yang solid serta sentimen positif terkait arah kebijakan politik luar negeri Inggris.

Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, memberikan pernyataan yang menjadi katalis utama penguatan mata uang tersebut.

Burnham membuka peluang bagi Inggris untuk kembali bergabung dengan Uni Eropa setelah pemilihan umum berikutnya.

Rencana tersebut disampaikan langsung oleh Burnham yang menyatakan akan memaparkan berbagai opsi untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan blok Eropa pada akhir tahun ini, sebagaimana dilansir dari Tradingeconomics, Rabu (30/9).

Selain faktor politik, fundamental ekonomi Inggris juga memberikan dorongan bagi penguatan poundsterling.

Data revisi produk domestik bruto (PDB) Inggris menunjukkan pertumbuhan sebesar 0,5% pada kuartal kedua tahun ini.

Angka pertumbuhan tersebut melampaui estimasi awal para analis yang sebelumnya memperkirakan angka di level 0,4%.

Di sisi lain, kebijakan moneter Bank of England (BoE) masih menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar global.

Internal BoE sendiri saat ini terpantau memberikan sinyal yang beragam mengenai langkah penyesuaian suku bunga ke depan.

Alan Taylor, salah satu pengambil kebijakan di BoE, berpandangan bahwa kenaikan suku bunga saat ini belum menjadi urgensi untuk mengatasi guncangan energi.

Pandangan tersebut kontras dengan sikap Gubernur BoE, Andrew Bailey, serta anggota Komite Kebijakan Moneter (MPC) lainnya.

Bailey dan jajarannya secara tersirat memberikan sinyal dukungan terhadap kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi domestik terus menunjukkan tren berlanjut.

Meskipun terjadi pemulihan pada akhir bulan, poundsterling secara akumulatif masih mencatatkan pelemahan sebesar 2% terhadap dolar Amerika Serikat sepanjang September.

Tekanan jual tersebut dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar mengenai arah kebijakan moneter di Inggris.

Pasar menilai langkah pengetatan kebijakan moneter yang diambil oleh BoE berisiko tertinggal dibandingkan dengan kebijakan yang diterapkan oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).

Investor kini terus mencermati perkembangan hubungan Inggris-Uni Eropa serta data inflasi terbaru sebagai penentu arah poundsterling di kuartal keempat.

Ketidakpastian mengenai kapan kenaikan suku bunga akan dieksekusi oleh BoE tetap menjadi tantangan bagi stabilitas mata uang tersebut dalam jangka pendek.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar