Jakarta – Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings kembali menegaskan peringkat kredit PT Danantara Investment Management (DIM) pada level “BBB” dengan prospek negatif.
Keputusan ini mencakup peringkat gagal bayar penerbit atau long-term issuer default ratings (IDR) baik dalam mata uang asing maupun lokal.
Selain itu, peringkat gagal bayar jangka pendek dalam mata uang asing perusahaan tersebut juga tetap dipertahankan pada level “F2”.
Fitch turut mengukuhkan peringkat program global medium-term note (GMTN) serta surat utang senior tanpa jaminan DIM pada level “BBB”.
Dalam skala domestik, Fitch Ratings Indonesia menetapkan peringkat nasional jangka panjang DIM di level “AAA(idn)” dengan prospek stabil.
Peringkat Nasional Jangka Pendek DIM juga dikonfirmasi berada pada level “F1+(idn)”.
Sementara itu, peringkat utang subordinasi perusahaan tersebut tetap di level “AAA(idn)”.
Penegasan peringkat tersebut didasarkan pada keyakinan Fitch mengenai adanya dukungan luar biasa dari Pemerintah Indonesia kepada DIM.
“Penegasan peringkat tersebut mencerminkan penilaian Fitch yang tidak berubah mengenai kemungkinan adanya dukungan luar biasa dari Pemerintah Indonesia (BBB/negatif) kepada DIM berdasarkan kriteria entitas terkait pemerintah atau Government-Related Entities (GRE),” ujar Fitch dalam keterangan resmi yang dirilis, Selasa (22/9/2026).
Fitch menilai terdapat keterkaitan yang sangat kuat antara DIM dan pemerintah selaku pemegang kendali.
DIM memegang peranan vital sebagai instrumen investasi pemerintah dalam struktur sovereign wealth fund di Indonesia.
Prospek negatif pada peringkat jangka panjang internasional DIM selaras dengan prospek kredit Pemerintah Indonesia saat ini.
Sebaliknya, prospek stabil pada peringkat nasional jangka panjang mencerminkan kelayakan kredit relatif DIM di pasar domestik yang dianggap terjaga.
Fitch menyatakan bahwa dukungan pemerintah terhadap DIM bersifat “Virtually Certain” atau hampir pasti diberikan jika diperlukan.
Skor dukungan yang diberikan mencapai 55 dari angka maksimal 60 berdasarkan kriteria Government-Related Entities (GRE) yang digunakan Fitch.
Penilaian tersebut mempertimbangkan tanggung jawab penuh serta insentif pemerintah untuk menjaga stabilitas DIM.
Pemerintah Indonesia tercatat sebagai pengambil keputusan utama atas seluruh kegiatan inti DIM.
Cakupan kendali tersebut meliputi operasional, rencana investasi, strategi pendanaan, hingga pengawasan berkala.
Peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai pemilik 100% saham DIM juga menjadi faktor penentu.
DIM diposisikan sebagai entitas yang menjalankan kebijakan publik dengan hubungan erat bersama pemerintah pusat.
Keserelarasan mandat diperkuat dengan jabatan Direktur Utama DIM yang juga merangkap sebagai chief investment officer (CIO) di BPI Danantara.
Bukti dukungan nyata terlihat dari suntikan modal sebesar Rp70 triliun yang diterima DIM pada tahun 2025 lalu.
Dana tersebut berasal dari dividen BUMN yang dihimpun melalui PT Danantara Asset Management (DAM).
Fitch memproyeksikan suntikan modal serupa akan terus diberikan setiap tahun guna menopang likuiditas dan pertumbuhan portofolio.
Kerangka regulasi yang ada saat ini turut menjamin aliran dana dividen BUMN melalui DAM dan Danantara kepada DIM.
DIM dinilai sebagai entitas penting yang menjadi platform utama pemerintah dalam merealisasikan prioritas strategis nasional.
Kegagalan bayar DIM dipandang akan memicu konsekuensi politik dan ekonomi yang serius bagi pemerintah.
Hal ini berkaitan dengan peran strategis DIM dalam menjalankan agenda pembangunan serta eksposurnya di pasar modal internasional.
Hingga saat ini, DIM merupakan satu-satunya entitas dalam grup Danantara yang memiliki kewenangan untuk menerbitkan obligasi.
Profil perusahaan semakin menonjol setelah berhasil menghimpun utang subordinasi sebesar Rp68,4 triliun.
Perseroan juga memiliki fasilitas kredit revolving multivaluta senilai US$1 miliar serta telah menerbitkan obligasi global perdana sebesar US$1,5 miliar.






















