Jakarta – Harga emas dunia mencatatkan penurunan pada perdagangan Rabu (29/7/2026) akibat tekanan dari penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Logam mulia ini merespons dinamika pasar keuangan global yang cenderung bersifat bearish menjelang pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Data Reuters menunjukkan harga emas spot terkoreksi sebesar 0,2% ke level US$ 4.020,69 per ons troi.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga mengalami pelemahan sebesar 0,4% menjadi US$ 4.019,40 per ons troi.
Analis Pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menilai penguatan dolar AS dan kenaikan tipis imbal hasil Treasury sebagai faktor utama penekan harga emas, dikutip dari Reuters, Rabu (29/7/2026).
Menurutnya, pasar saat ini berada dalam posisi menunggu keputusan FOMC serta pernyataan dari Ketua The Fed, Kevin Warsh.
Kondisi ekonomi makro saat ini membuat aset emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang non-dolar.
Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi mengurangi daya tarik emas karena logam mulia merupakan aset yang tidak menghasilkan imbal hasil atau yield.
Investor kini memusatkan perhatian pada hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC).
CME FedWatch Tool mencatat sekitar 64% pelaku pasar memprediksi The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan hari ini.
Namun, sentimen pasar mulai bergeser dengan adanya antisipasi peluang kenaikan suku bunga sebesar 80% pada September mendatang.
Ekspektasi suku bunga tinggi ini diperkuat oleh lonjakan harga minyak dunia yang naik lebih dari 4%.
Kenaikan harga energi tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Situasi tersebut mencakup serangan yang melibatkan AS dan Arab Saudi di Irak serta upaya pencegatan rudal Iran yang menargetkan pasukan AS.
Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Fenomena ini mendorong bank sentral untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi guna meredam laju inflasi.
Selain keputusan The Fed, pelaku pasar juga menanti rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS periode Juni yang dijadwalkan pada Kamis (30/7/2026).
Data PCE merupakan indikator inflasi acuan bagi The Fed yang akan memberikan sinyal mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Di pasar global, pergerakan logam mulia lainnya menunjukkan tren yang bervariasi.
Harga perak spot tercatat naik 0,2% menjadi US$ 57,25 per ons troi.
Sebaliknya, harga platinum turun 1,2% ke level US$ 1.588,05 per ons troi.
Sementara itu, harga paladium melemah 1,7% menjadi US$ 1.248,29 per ons troi.
Bank sentral dunia lainnya, seperti Bank of England (BoE) dan Bank of Japan (BoJ), juga menjadi sorotan pasar di tengah tekanan inflasi akibat konflik Timur Tengah.






















