Jakarta – Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah mengalihkan dana bagi hasil dari sektor hilirisasi nikel untuk memperkuat jaring pengaman sosial bagi masyarakat setempat. Langkah ini diambil sebagai upaya memastikan dampak positif investasi tidak hanya dirasakan oleh sektor industri, tetapi juga menyentuh langsung kesejahteraan warga.
Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangadji, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengalokasikan dana tersebut untuk berbagai program bantuan. Di antaranya adalah insentif bulanan sebesar Rp1 juta bagi ibu hamil dan menyusui, serta bantuan Rp500 ribu per bulan bagi lansia dan orang tua tunggal.
“Saya berikan beasiswa, dan pendidikan gratis itu mulai dari PAUD sampai S3,” ujar Ikram.
Kebijakan ini lahir seiring dengan lonjakan ekonomi daerah yang dipicu oleh masifnya investasi industri pengolahan nikel. Ikram mencatat, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Halmahera Tengah mengalami kenaikan drastis hingga 1.500 persen.
Sebelum program hilirisasi berjalan, PDRB daerah tersebut hanya berada di angka Rp3,9 triliun. Namun, setelah industri nikel beroperasi, nilainya melonjak tajam menjadi Rp54,8 triliun.
“Sebelum hilirisasi, investasi itu hanya Rp3,9 triliun, PDRB-nya. Tapi begitu masuk pada hilirisasi, itu menjadi Rp54,8 triliun. Itu artinya ada 1.500 persen atau kenaikan 16 kali. Itu dari aspek ekonomi,” jelas Ikram.
Menurut Ikram, keberhasilan hilirisasi tidak boleh hanya dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi semata. Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan manfaat dari kehadiran industri tersebut dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan sekadar terbatas di kawasan industri saja.




















