IHSG Tertekan, Rebalancing MSCI dan Pelemahan Rupiah Jadi Beban Utama

persen

Jakarta – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan terbatas dan berada dalam bayang-bayang tekanan jual di jangka pendek. Meski potensi technical rebound tetap terbuka, tren pelemahan indeks saat ini dinilai belum berakhir sepenuhnya.

Pengamat pasar modal, Irwan Ariston, menyatakan bahwa IHSG masih terjebak dalam tren bearish secara teknikal. Menurutnya, kenaikan sementara yang mungkin terjadi tidak akan mengubah tekanan pasar yang masih dominan.

Sentimen negatif datang dari berbagai faktor, mulai dari eksternal hingga domestik. Pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh kisaran Rp17.500 per dolar AS menjadi pemberat utama, ditambah dengan dampak rebalancing MSCI yang menekan sejumlah saham seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT.

Irwan juga menyoroti pentingnya kepastian hukum di dalam negeri. Ia menilai minimnya kepastian hukum dapat menggerus kepercayaan investor dan memperburuk kondisi pasar yang sedang tertekan.

Di sisi lain, Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, mengungkapkan bahwa tekanan pasar juga bersumber dari sentimen global. Tingginya inflasi Amerika Serikat akibat kenaikan harga minyak telah memupus harapan pemangkasan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS turut memperkuat posisi dolar dan menekan pasar negara berkembang. Di tengah dinamika tersebut, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan proyeksi support di level 6.600-6.700 dan resistance di 6.800-6.977.

Menanggapi tekanan pada saham-saham yang keluar dari indeks MSCI, Irwan menambahkan bahwa pergerakan saham tersebut akan sangat bergantung pada kendali pemegang saham mayoritas, mengingat porsi kepemilikan publik yang relatif kecil.

Dalam situasi pasar yang penuh ketidakpastian, investor disarankan untuk bersikap selektif dan menjaga likuiditas. Investor jangka panjang disarankan fokus pada saham berfundamental kuat dengan valuasi menarik, yakni dengan rasio Price to Earnings Ratio (PER) di bawah 7 kali dan Price to Book Value (PBV) di bawah 0,7 kali.

Selain itu, investor diminta untuk menyiapkan kas minimal 50 persen dari total portofolio sebagai langkah antisipasi terhadap potensi penurunan pasar lebih dalam. Irwan menegaskan, ketika fundamental ekonomi terindikasi melemah, hampir seluruh sektor akan kehilangan daya tariknya bagi investor.

Rekomendasi