Sri Lanka Naikkan Pajak Impor Mobil di Tengah Krisis

persen

sri-lanka-naikkan-pajak-impor-mobil-imbas-krisis-timur-tengah
Sri Lanka Naikkan Pajak Impor Mobil Imbas Krisis Timur Tengah

Kolombo – Sri Lanka resmi menaikkan bea masuk kendaraan sebesar 50 persen untuk menahan laju impor sekaligus meredam tekanan terhadap rupee yang terus melemah akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.

Kebijakan itu muncul setelah mata uang Sri Lanka jatuh tajam sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu balasan dari Teheran. Kondisi geopolitik tersebut langsung mengguncang stabilitas keuangan domestik negara itu.

Wakil Menteri Keuangan Sri Lanka Anil Jayantha Fernando mengatakan pemerintah meminta masyarakat menunda pembelian kendaraan dari luar negeri selama tiga bulan.

“Mengingat tekanan pada valuta asing saat ini, kami ingin masyarakat menunda impor (kendaraan) mereka selama tiga bulan,” ujar Fernando di Kolombo.

Sebelum kebijakan baru diberlakukan, kendaraan di Sri Lanka sudah dikenai bea masuk reguler sebesar 30 persen. Namun, sejumlah pungutan tambahan membuat total beban pajak impor untuk satu unit mobil kini bisa menembus lebih dari 100 persen.

Selain menekan impor otomotif, pemerintah Sri Lanka juga telah menaikkan harga energi lebih dari sepertiga sejak perang di Timur Tengah pecah. Otoritas setempat bahkan mulai menerapkan sistem jatah untuk pembelian solar dan bensin demi menekan besarnya tagihan impor negara.

Data resmi pemerintah menunjukkan rupee Sri Lanka telah turun 4,5 persen terhadap dolar AS sepanjang tahun ini. Gubernur Bank Sentral Nandalal Weerasinghe juga memperingatkan rupee masih berisiko terus melemah jika harga minyak mentah dunia tidak turun atau Sri Lanka tidak memangkas impor energi secara signifikan.

Kondisi itu menambah beban bagi Sri Lanka yang baru saja berupaya keluar dari krisis ekonomi terburuknya pada 2022. Saat itu, negara tersebut kehabisan cadangan devisa hingga tak mampu membiayai impor kebutuhan pokok seperti pangan, bahan bakar, dan obat-obatan.

Untuk memulihkan keadaan, Sri Lanka hingga kini masih berada di bawah program bailout Dana Moneter Internasional atau IMF senilai US$2,9 miliar.

Rekomendasi