Investor Asing Kurangi Eksposur di Emerging Market, Ini Pemicunya

Investor Asing Kurangi Eksposur di Emerging Market, Ini Pemicunya

Jakarta – Investor global kini tengah mengalihkan fokus alokasi aset mereka dari negara-negara berkembang ke pasar yang dianggap lebih aman atau memiliki prospek pertumbuhan spesifik.

Tren pelepasan aset atau capital outflow ini terpantau masif di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia dan India, yang mencatatkan pembalikan arus modal signifikan sepanjang pertengahan tahun 2026.

India, sebagai contoh, mengalami arus keluar modal bersih sebesar US$ 2,4 miliar pada Mei 2026, yang berbanding terbalik dengan posisi surplus sebesar US$ 3,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Tekanan serupa turut membayangi pasar keuangan domestik Indonesia, di mana minat investor asing yang menurun tercermin dari lonjakan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN).

Yield SBN tenor 10 tahun tercatat menyentuh level 7,37% per 24 Juli 2026, yang berarti telah melonjak 13% secara tahunan.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa investor menuntut kompensasi risiko yang lebih tinggi untuk tetap menanamkan modalnya di pasar Indonesia.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyatakan bahwa fenomena ini dipicu oleh tiga faktor utama yakni kebijakan hawkish bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, guncangan harga energi akibat konflik di Timur Tengah, serta sentimen risk-off global.

“Dana asing yang keluar dari emerging market mengalir ke kawasan dan instrumen yang dianggap sebagai aset safe haven atau diuntungkan oleh tren struktural baru seperti sektor infrastruktur kecerdasan buatan (AI),” ujar Harry Su sebagaimana dikutip dari pernyataannya, Minggu (26/7/2026).

Harry Su menambahkan bahwa tekanan arus keluar modal berpotensi berlanjut dalam jangka pendek hingga menengah.

Pemicunya adalah meningkatnya beban fiskal APBN serta pelemahan nilai tukar rupiah yang menggerus prospek pertumbuhan ekonomi nasional.

Senada dengan hal tersebut, Pengamat Pasar Modal dan Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, menyoroti kurangnya basis perusahaan berbasis AI dan semikonduktor di Indonesia dan India dibandingkan negara lain.

“India dengan Indonesia itu kita kekurangan perusahaan yang basis AI dan semikonduktor,” ucap Hans Kwee saat memberikan analisisnya terkait dinamika pasar.

Selain faktor eksternal, Hans Kwee mencatat bahwa sentimen domestik turut memperburuk persepsi investor.

Ancaman penurunan status Indonesia ke kategori frontier market oleh MSCI serta kekhawatiran terhadap transparansi pengelolaan anggaran pemerintah menjadi beban tersendiri bagi pasar modal tanah air.

Meski demikian, terdapat peluang bagi investor domestik untuk memanfaatkan kondisi pasar saat ini.

Harry Su menyarankan strategi rotasi portofolio ke saham berbasis komoditas dan energi yang memiliki fungsi lindung nilai alami terhadap inflasi global.

Selain itu, investor disarankan untuk menjaga likuiditas melalui reksa dana pasar uang guna mengantisipasi momentum pembelian aset berfundamental kuat saat harga berada di level rendah.

Pemanfaatan instrumen fixed income seperti SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga dinilai sebagai langkah tepat untuk mengunci keuntungan di tengah ketidakpastian pasar global yang masih tinggi.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar