Banda Aceh – Pemulihan fasilitas umum dan kawasan permukiman di Aceh pascabencana terus dikebut oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Hingga 9 Agustus 2026, sebanyak 650 fasilitas umum dan 68 kawasan permukiman telah berhasil dibersihkan dari material sisa bencana.
Upaya pembersihan ini mencakup pengangkutan 33.163 ton lumpur, sampah, serta material sisa bencana lainnya.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa pembersihan sedimentasi lumpur menjadi fokus utama dalam mempercepat pemulihan aktivitas warga.
“Penanganan lumpur menjadi salah satu prioritas utama,” ujar Dody dalam keterangannya, Senin (10/8).
Ia menambahkan bahwa kondisi di Aceh Tamiang menjadi perhatian khusus karena terdampak timbunan lumpur yang cukup parah.
“Karena itu harus segera dibersihkan agar masyarakat bisa kembali beraktivitas dan lingkungan dapat dipulihkan,” tegas Dody.
Selain pembersihan lingkungan, Kementerian PU juga menuntaskan perbaikan pada 10 Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) yang sempat terdampak.
Sementara itu, penanganan pada 10 Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) masih terus berjalan dengan lima lokasi yang telah selesai dikerjakan.
Pemerintah juga tengah mempercepat perbaikan infrastruktur dasar lainnya seperti sistem penyediaan air minum, jalan, jembatan, hingga infrastruktur sumber daya air.
Proses evakuasi material bencana ini melibatkan pengerahan personel dan peralatan berat di sejumlah wilayah terdampak, termasuk Aceh Tengah dan Pidie Jaya.






















