Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) kini mengoptimalkan potensi dana filantropi Islam melalui kolaborasi strategis dengan pengelola Masjid Istiqlal.
Langkah ini dilakukan dengan melibatkan manajer investasi (MI) untuk mengelola dana keagamaan tersebut secara profesional di pasar modal.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa program ini bertujuan untuk memaksimalkan dampak sosial dari dana filantropi berbasis syariah.
“Jadi filantropi Islam yang disalurkan ke Masjid Istiqlal itu akan dikelola secara profesional oleh manajer investasi. Nah, itu yang sedang dikerjakan,” ujar Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Senin (10/8).
Jeffrey menjelaskan bahwa dana tersebut akan ditempatkan ke dalam berbagai instrumen pasar modal syariah yang relevan.
Pilihan instrumen investasi yang tersedia tidak terbatas pada satu produk saja.
“Bisa bentuknya saham, bisa bentuknya reksa dana, bisa bentuknya dana yang kemudian itu akan dikelola oleh manajer investasi,” terangnya.
Meski program ini sudah mulai berjalan, pihak BEI mengaku belum menerima laporan mengenai total nominal dana yang telah terkumpul hingga saat ini.
“Saya belum dapat datanya, ya, tetapi itu sudah mulai bergulir,” ungkap Jeffrey.
Ke depan, BEI menargetkan partisipasi yang lebih luas dari para manajer investasi dan investor untuk mendukung instrumen berbasis keagamaan.
Pihaknya berharap skema wakaf saham maupun reksa dana dapat terus berkembang guna memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
“Ya tentu kita harapkan akan lebih banyak lagi MI yang berpartisipasi, lebih banyak lagi investor yang memberikan wakaf misalnya, dalam bentuk wakaf saham, wakaf reksa dana, dan kemudian tentu lebih banyak lagi penerima manfaat,” pungkasnya.























