Kinerja Saham Perbankan Sepekan: BBRI Menguat di Tengah Aksi Jual

persen

Jakarta – Pergerakan saham bank berkapitalisasi besar atau big banks di Bursa Efek Indonesia masih berada dalam tekanan sepanjang perdagangan pekan lalu. Dari empat bank raksasa, hanya saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang berhasil mencatatkan penguatan.

Hingga penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026), saham BBRI tercatat naik 1,18 persen ke level Rp 3.430 per saham. Sebaliknya, tiga bank besar lainnya yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) kompak terkoreksi.

Penurunan paling tajam dialami oleh saham BBCA yang ambles 4,10 persen ke posisi Rp 6.425. Menyusul di belakangnya, saham BMRI turun 1,07 persen ke level Rp 4.620, sementara saham BBNI mencatatkan pelemahan paling tipis sebesar 0,54 persen menjadi Rp 3.710.

Aksi jual oleh investor asing menjadi salah satu pemicu utama tekanan pada saham perbankan. BBRI mencatatkan nilai jual bersih (net sell) terbesar mencapai Rp 1,09 triliun, disusul BBCA sebesar Rp 995,23 miliar, dan BMRI sebesar Rp 562,14 miliar. Di sisi lain, saham BBNI justru mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp 113,79 miliar.

Kepala Riset Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengungkapkan bahwa sentimen global, terutama pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), menjadi faktor utama penekan harga saham perbankan. Rupiah tercatat melemah 0,29 persen ke level Rp 17.189 per dolar AS pada penutupan pekan lalu.

Depresiasi rupiah mendorong investor asing mengalihkan dana mereka dari sektor perbankan ke saham komoditas yang dinilai lebih diuntungkan oleh pendapatan berbasis dolar AS.

Kini, pelaku pasar tengah menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada pekan depan. Liza memperingatkan bahwa jika BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga, saham big banks berpotensi mengalami koreksi lebih dalam.

Kenaikan suku bunga akan meningkatkan biaya dana (cost of fund) bagi perbankan, yang pada akhirnya dapat menekan valuasi saham. Situasi ini menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Dalam kondisi pasar yang fluktuatif ini, investor disarankan untuk bersikap defensif. Strategi yang paling dianjurkan adalah memantau pergerakan rupiah dan yield global secara cermat, serta melakukan akumulasi saham secara selektif pada aset likuid yang memiliki eksposur terhadap dolar AS.

Rekomendasi