Jakarta – Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, mendesak pihak kepolisian dan manajemen klub untuk menindak tegas aksi kekerasan yang terjadi dalam laga Elite Pro Academy (EPA) Liga 1 U-20 antara Bhayangkara FC U-20 melawan Dewa United U-20 di Stadion Citarum, Minggu (19/4).
Insiden yang terjadi pada matchday ke-33 tersebut memicu kemarahan publik setelah rekaman aksi “tendangan kungfu” salah satu pemain Bhayangkara FC, Fadly Alberto, terhadap pemain lawan viral di media sosial. Sahroni menilai tindakan tersebut telah keluar dari koridor olahraga dan masuk ke ranah penganiayaan.
Menurut Sahroni, perilaku tersebut tidak bisa ditoleransi karena memiliki unsur kesengajaan yang jelas, bahkan dilakukan di luar konteks permainan. Ia mendesak agar insiden ini diusut secara pidana untuk memberikan efek jera agar aksi kekerasan tidak menjadi budaya dalam sepak bola Indonesia.
Selain menuntut jalur hukum, Sahroni mendesak pihak Bhayangkara FC untuk mengambil langkah tegas berupa pemecatan terhadap pemain yang terlibat. Hal itu dinilai penting untuk menjaga martabat sepak bola tanah air dan memastikan bahwa sportivitas tetap menjadi prioritas utama.
Manajemen Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 melalui manajernya, Yongki Pandu Pamungkas, mengakui adanya insiden tersebut dan menegaskan bahwa pihaknya tidak membenarkan tindakan anarkis yang dilakukan pemainnya.
Sementara itu, Presiden Dewa United FC, Ardian Satya Negara, menyatakan sikap tegas untuk membawa kasus ini ke ranah hukum. Ardian mengaku sangat kecewa lantaran kekerasan tersebut tidak hanya melibatkan pemain, tetapi juga diduga dilakukan oleh oknum pelatih dari pihak lawan.
Pihak Dewa United menegaskan akan memproses seluruh pelaku yang terlibat dalam keributan tersebut demi menegakkan keadilan dan memastikan keamanan bagi seluruh pemain di lapangan.























