Jakarta – Pasar obligasi domestik menunjukkan sinyal pemulihan yang moderat di tengah masih berlanjutnya tekanan koreksi hingga pertengahan tahun 2026.
Meskipun volatilitas masih membayangi, para analis menilai prospek pasar surat utang Indonesia pada paruh kedua tahun ini mulai menampakkan titik terang dengan pemulihan yang berlangsung secara bertahap.
Data Bloomberg mencatat yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor dua tahun berada di kisaran 7,17 persen, tenor tiga tahun 7,18 persen, tenor lima tahun 7,08 persen, dan tenor 10 tahun 7,15 persen.
Level tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan posisi akhir Mei lalu setelah pasar mengalami koreksi cukup dalam sepanjang Juni.
Fixed Income Analyst PEFINDO, Ahmad Nasrudin, menyatakan bahwa level yield saat ini menawarkan kompensasi imbal hasil yang jauh lebih menarik bagi investor dengan horizon investasi menengah.
Menurutnya, instrumen ini sangat cocok bagi pelaku pasar yang tidak terlalu sensitif terhadap volatilitas jangka pendek.
Namun, ia menegaskan bahwa pasar obligasi saat ini masih kekurangan katalis kuat untuk memicu pemulihan secara penuh dan menyeluruh.
Terdapat tiga prasyarat utama yang harus terpenuhi agar pasar dapat kembali ke jalur penguatan yang stabil.
“Tiga prasyarat masih perlu terlihat lebih jelas, yaitu rupiah harus lebih stabil, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tidak terus menjadi pesaing yang terlalu dominan, dan permintaan lelang Surat Berharga Negara (SBN) perlu membaik,” ujar Ahmad, Kamis (2/7).
Tantangan pemulihan ini juga tercermin dari rencana ambisius pemerintah dalam penerbitan surat utang pada semester II.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), target lelang SBN pada kuartal III 2026 dipatok mencapai Rp 324 triliun.
Angka tersebut mengalami lonjakan signifikan dibandingkan target lelang pada kuartal II yang hanya sebesar Rp 220 triliun.
Di sisi lain, rasio bid-to-cover pada lelang SBN sepanjang 2026 menunjukkan tren pelemahan yang konsisten.
Hal ini menjadi indikator bahwa minat investor dalam menyerap pasokan surat utang pemerintah belum kembali ke level optimal.
Ahmad menambahkan bahwa investor saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam mempertimbangkan kemampuan pasar menyerap pasokan baru.
Faktor eksternal juga masih memainkan peran krusial terhadap prospek pasar obligasi nasional.
Pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat serta ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed, tetap menjadi penentu arah aliran modal asing.
“Selama pasar belum yakin terhadap ruang penurunan suku bunga The Fed, investor global akan tetap selektif terhadap aset negara berkembang,” kata Ahmad.
Sementara itu, untuk pasar obligasi korporasi, investor disarankan untuk menerapkan strategi yang sangat selektif.
Emiten dengan peringkat kredit tinggi serta arus kas yang kuat dinilai lebih mampu bertahan di tengah tingginya suku bunga.
Sebaliknya, emiten dengan peringkat menengah ke bawah menghadapi tantangan biaya pendanaan yang lebih mahal akibat meningkatnya nilai jatuh tempo obligasi pada semester II.
Ahmad menyarankan investor untuk mengakumulasi obligasi secara bertahap pada tenor pendek hingga menengah guna memitigasi risiko harga.






















