Jakarta – PT Ciputra Development Tbk (CTRA) memproyeksikan penurunan kinerja keuangan pada tahun 2026, dengan estimasi laba bersih dan pendapatan yang diperkirakan terkoreksi sebesar 10% dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya. Langkah ini diambil perseroan sebagai bentuk antisipasi terhadap kondisi ekonomi domestik maupun global yang masih menantang bagi sektor properti.
Sekretaris Perusahaan PT Ciputra Development Tbk, Aditya Ciputra Sastrawinata, menjelaskan bahwa target tersebut telah ditetapkan dengan prinsip kehati-hatian. Hal ini menanggapi fenomena penurunan daya beli masyarakat yang berdampak pada lesunya permintaan properti di sejumlah wilayah di Indonesia. Meskipun proyeksi laba dan pendapatan mengalami penurunan, perseroan tetap mematok target pendapatan prapenjualan atau marketing sales di angka Rp 9,5 triliun, angka yang sama dengan target tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2025, perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 12,7 triliun, meningkat 13% dari tahun 2024 yang mencapai Rp 11,2 triliun. Laba bersih pada periode yang sama tumbuh 25% menjadi Rp 2,7 triliun dari sebelumnya Rp 2,1 triliun. Untuk mencapai target marketing sales di tengah kondisi pasar yang menantang, CTRA mengandalkan strategi diversifikasi geografis serta pengembangan produk residensial yang menyasar segmen menengah ke atas dengan harga jual di atas Rp 1,5 miliar.
Strategi tersebut didukung dengan peluncuran proyek residensial baru, seperti Citra Homes Halim di Jakarta dan Citra Bukit Golf Sentul di Bogor. Selain itu, perusahaan tengah mengoptimalkan program insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk memicu minat beli konsumen. Pada kuartal I 2026, CTRA telah merilis sejumlah klaster baru di proyek CitraGarden City Jakarta dan Citra Garden Serpong. Sementara untuk semester II 2026, perusahaan menjadwalkan peluncuran proyek tambahan, termasuk Apartemen Kataluna di CitraLand City CPI Makassar.
Di pasar modal, saham CTRA tercatat mengalami tekanan dengan koreksi sebesar 31,93% secara year to date ke level Rp 565 per saham. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, mencatat bahwa kinerja keuangan perusahaan pada kuartal I 2026 sempat mengalami perlambatan, di mana pendapatan turun 6,37% menjadi Rp 2,56 triliun dan laba bersih melorot 21,52% menjadi Rp 518 miliar.
Adrian menilai penurunan harga saham tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Selain penurunan kinerja emiten, pasar properti secara keseluruhan menghadapi tekanan dari kenaikan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin menjadi 5,75%. Faktor ini, ditambah dengan kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi 31,81% sepanjang tahun 2026, memberikan dampak signifikan terhadap sentimen investor di sektor properti yang mengandalkan pendapatan dari pengembangan aset atau development income. Meski demikian, analis tetap memberikan rekomendasi trading buy dengan target harga di level Rp 605 per lembar saham.






















