MTEL Segera Merger dengan Dua Anak Usaha Usai RUPS

persen

Jakarta – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel segera melakukan penggabungan usaha atau merger dengan dua anak perusahaannya, yakni PT Persada Sokka Tama (PST) dan PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT). Aksi korporasi ini dirancang untuk menyederhanakan struktur organisasi grup sekaligus memantapkan posisi perusahaan sebagai penyedia infrastruktur digital terintegrasi di Indonesia.

Dalam skema penggabungan tersebut, Mitratel akan bertindak sebagai perusahaan penerima penggabungan yang menyerap seluruh aset, kewajiban, hak, serta kegiatan operasional PST dan UMT. Seluruh proses integrasi ini dijadwalkan untuk dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) masing-masing perusahaan yang akan diselenggarakan pada 30 Juni 2026. Karena status PST dan UMT merupakan anak usaha yang dimiliki sepenuhnya oleh Mitratel, aksi ini dipastikan tidak akan memicu dilusi saham maupun perubahan pengendalian bagi pemegang saham publik.

Manajemen Mitratel melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia menyatakan bahwa integrasi ini bertujuan untuk memperluas portofolio menara telekomunikasi dan infrastruktur pendukung secara substansial. Dengan menyatukan entitas tersebut, perusahaan menargetkan peningkatan skala aset yang lebih efisien serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya. Efisiensi operasional menjadi fokus utama, mencakup penekanan biaya pemeliharaan, manajemen energi, hingga optimalisasi sumber daya manusia serta biaya administrasi umum.

Selain penguatan skala bisnis, Mitratel berencana memperluas ruang lingkup kegiatan usaha pascamerger. Perusahaan akan menambahkan klasifikasi usaha baru yang sebelumnya telah dijalankan oleh PST dan UMT, seperti layanan akses internet, konsultasi dan perancangan internet of things (IoT), layanan telekomunikasi, hingga penyediaan tenaga kerja teknis. Penyesuaian Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) ini dilakukan agar Mitratel memiliki dasar hukum yang kuat untuk mengelola unit bisnis yang selama ini dikelola secara terpisah oleh anak perusahaannya.

Langkah strategis ini merupakan bagian dari transformasi Mitratel dari perusahaan menara konvensional menjadi penyedia infrastruktur digital yang lebih komprehensif. Portofolio perusahaan ke depan akan mencakup sinergi antara menara telekomunikasi, jaringan fiber optik, managed services, serta solusi berbasis IoT. Pergeseran model bisnis ini didorong oleh tingginya permintaan pasar akan konektivitas data, kebutuhan fiberisasi jaringan, serta akselerasi pembangunan infrastruktur 4G dan 5G di tanah air.

Studi kelayakan perusahaan menunjukkan bahwa pasar telekomunikasi kini semakin condong ke arah platform infrastruktur digital yang terintegrasi. Tren ini dinilai sebagai peluang emas bagi Mitratel untuk meningkatkan nilai tambah perusahaan di tengah pertumbuhan ekonomi digital nasional. Secara finansial, aksi korporasi ini diperkirakan tidak memberikan dampak material yang signifikan terhadap kondisi keuangan konsolidasian Mitratel, mengingat operasional PST dan UMT selama ini telah tercermin dalam laporan keuangan grup.

Meski demikian, manajemen tetap mewaspadai potensi risiko selama masa transisi, terutama yang berkaitan dengan integrasi operasional, penyesuaian kontrak pelanggan, serta pembaruan administrasi perizinan aset. Perusahaan berkomitmen untuk mengelola risiko tersebut melalui strategi transisi yang terstruktur dan komunikasi intensif dengan seluruh pemangku kepentingan terkait. Melalui integrasi ini, Mitratel memproyeksikan penguatan fundamental bisnis jangka panjang untuk menangkap peluang pertumbuhan di sektor infrastruktur telekomunikasi masa depan.

Rekomendasi