Jakarta – Pasar keuangan Indonesia diprediksi akan tetap berada dalam fase stagnasi menyusul agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Juli 2026. Meskipun terdapat tantangan makroekonomi, sinyal positif muncul dari peningkatan aliran modal asing yang masuk ke instrumen obligasi dalam negeri.
Berdasarkan data regulator pasar obligasi di kawasan Asia, investor asing mencatatkan pembelian bersih obligasi di Indonesia sebesar US$ 5,5 miliar sepanjang Juni 2026. Angka tersebut menjadi arus masuk bulanan tertinggi sejak Mei 2024 dan menempatkan Indonesia sebagai destinasi utama investasi asing di kawasan tersebut.
Kepala Riset Asia ANZ, Khoon Goh, menyatakan bahwa minat investor asing terhadap Indonesia didorong oleh imbal hasil yang relatif tinggi, terutama pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sebagaimana dikutip dari Reuters.
Meski pasar obligasi mencatatkan arus masuk, pasar saham domestik masih menunjukkan dinamika yang berbeda. Data menunjukkan adanya aliran keluar dana asing di pasar reguler sebesar Rp 12,13 triliun dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Ekonom Panin Sekuritas, Muhammad Zaidan, menilai bahwa Bank Indonesia kemungkinan akan mengambil sikap wait and see pada pertemuan mendatang. Langkah ini diambil untuk memantau transmisi kebijakan moneter setelah kenaikan suku bunga sebesar 100 basis poin yang diterapkan sejak Mei lalu, ujarnya dalam wawancara, Jumat (17/7/2026).
Zaidan menambahkan bahwa stabilitas kurs rupiah di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.000 per dolar AS menjadi faktor penentu pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke depan. Selama nilai tukar tetap terjaga, ia meyakini IHSG memiliki potensi untuk bergerak dalam tren positif.
Direktur PT Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang, turut menyoroti bahwa masuknya dana asing merupakan indikator positif, namun belum mencerminkan pemulihan pasar secara menyeluruh. Ia menekankan pentingnya mencermati rilis laporan keuangan emiten semester I 2026 sebagai katalis utama pergerakan harga saham, menurut keterangan yang disampaikan, Minggu (19/7/2026).
Dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia saat ini dinilai cukup atraktif dengan rasio Price to Earning (PER) berada di bawah 9 kali. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata historis yang biasanya berada di kisaran 13 hingga 15 kali.
Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyarankan para investor untuk tetap menerapkan strategi diversifikasi portofolio di tengah volatilitas global. Ia menilai sektor perbankan, telekomunikasi, dan komoditas masih memiliki prospek menarik bagi investor jangka panjang, sebagaimana disampaikannya, Minggu (19/7/2026).
Hendra merekomendasikan pendekatan akumulasi bertahap pada saham-saham dengan fundamental kuat guna memitigasi risiko pasar yang belum sepenuhnya stabil. Selain saham, obligasi pemerintah juga dipandang sebagai aset yang relevan untuk menyeimbangkan portofolio di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Secara keseluruhan, pelaku pasar kini menanti arah kebijakan moneter lebih lanjut serta respons BI terhadap data inflasi dan defisit neraca perdagangan. Stabilitas domestik dan konsistensi aliran modal asing dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi penentu utama apakah IHSG mampu menguji level psikologis yang lebih tinggi hingga akhir tahun 2026.




















