Jakarta – PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI) tengah memfokuskan strategi perusahaan pada efisiensi operasional di tengah dinamika harga saham yang melonjak tajam di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Langkah tersebut diambil manajemen sebagai respons atas fluktuasi harga saham yang memicu penghentian sementara perdagangan atau suspensi oleh otoritas bursa.
Direktur Utama CSMI, Radino Miharjo, menegaskan bahwa rencana ekspansi bisnis saat ini dilakukan secara sangat selektif dan bertahap.
“Ekspansi masih dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi bisnis dan kinerja outlet yang sudah berjalan,” ujar Radino dalam keterbukaan informasi di BEI, Jumat (4/9/2026).
Pihak perusahaan menyatakan bahwa keputusan untuk membuka gerai baru sepanjang tahun 2026 bergantung sepenuhnya pada hasil evaluasi kinerja outlet eksisting.
Manajemen juga menyoroti aspek kelayakan lokasi serta kondisi pasar sebagai variabel utama dalam menentukan langkah pertumbuhan perusahaan ke depan.
Saat ini, emiten yang sebelumnya dikenal sebagai pengelola waralaba Texas Fried Chicken tersebut mengandalkan operasional melalui merek NWS Chicken.
Perseroan tercatat memiliki empat outlet yang saat ini beroperasi di wilayah Jawa dan Sumatera.
Selain tantangan operasional, CSMI juga sedang menuntaskan proses administratif pendaftaran merek baru di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).
Perusahaan mengakui adanya kendala teknis terkait kesamaan nama merek dengan pihak lain yang menghambat kelanjutan proses pendaftaran tersebut.
Di sisi lain, pergerakan saham CSMI menarik perhatian publik setelah harga sahamnya melonjak 140,79% dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
BEI memutuskan untuk melakukan suspensi perdagangan saham CSMI sejak 28 Agustus 2026, setelah harga terakhir tercatat di level Rp 183 per saham pada 27 Agustus 2026.
Menanggapi permintaan penjelasan dari otoritas bursa, manajemen CSMI menegaskan tidak ada informasi material atau kontrak baru yang belum terpublikasi.
“Tidak terdapat informasi material yang belum disampaikan kepada publik yang dapat menjelaskan pergerakan tersebut,” jelas pihak manajemen.
Pihak perusahaan menilai lonjakan harga saham murni disebabkan oleh mekanisme pasar, yaitu dinamika permintaan dan penawaran di pasar sekunder.
Secara fundamental, kinerja keuangan CSMI pada semester I-2026 masih berada dalam tekanan meski terdapat upaya perbaikan efisiensi.
Perusahaan mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp 1,02 miliar pada semester pertama tahun 2026, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 27,94 juta.
Penurunan tersebut dipicu oleh tingginya beban operasional, penyesuaian biaya bahan baku, serta besarnya biaya tetap atau fixed cost.
Pendapatan perusahaan pada periode tersebut tercatat mengalami kontraksi sebesar 43,92% menjadi Rp 815,83 juta, yang berdampak langsung pada penurunan laba kotor sebesar 45,97% menjadi Rp 484,97 juta.
Kondisi keuangan ini menjadi alasan utama mengapa manajemen memilih untuk berhati-hati dalam memetakan potensi pengembangan bisnis baru.




















