Jakarta – Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut hingga April 2026. Meskipun mencatatkan surplus sebesar US$ 0,09 miliar pada bulan April, performa kumulatif sepanjang Januari hingga April 2026 tercatat sebesar US$ 5,64 miliar, atau lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 11,07 miliar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso merinci, surplus kumulatif tersebut ditopang oleh kinerja sektor nonmigas yang mencapai US$ 14,16 miliar, meski sektor migas mengalami defisit sebesar US$ 8,52 miliar.
Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar senilai US$ 11,71 miliar. Posisi berikutnya ditempati oleh bahan bakar mineral sebesar US$ 8,34 miliar serta besi dan baja sebesar US$ 5,71 miliar.
Di sisi lain, Indonesia masih mengalami defisit perdagangan pada komoditas mesin dan peralatan mekanis sebesar US$ 9,87 miliar, mesin dan perlengkapan elektrik US$ 4,95 miliar, serta plastik dan barang dari plastik sebesar US$ 2,80 miliar.
Amerika Serikat mencatatkan diri sebagai penyumbang surplus nonmigas terbesar bagi Indonesia dengan nilai US$ 6,81 miliar. Sebaliknya, Indonesia mencatat defisit nonmigas terdalam dengan Cina sebesar US$ 8,03 miliar.
Pada April 2026, total ekspor Indonesia mencapai US$ 25,30 miliar, tumbuh 12,32 persen secara bulanan. Kenaikan ekspor ini dipicu oleh tingginya permintaan dari Uni Emirat Arab, Afrika Selatan, dan Belgia. Komoditas seperti kopi, teh, dan rempah-rempah mencatat pertumbuhan ekspor tertinggi hingga 54,44 persen.
Namun, sektor pertanian mengalami tekanan dengan penurunan ekspor sebesar 26,27 persen. Budi menyebutkan bahwa komoditas kakao beserta olahannya menjadi salah satu penyumbang penurunan terdalam dalam sektor tersebut dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.






















