Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) memperketat pengawasan dalam program pengembangan perkebunan seluas 870 ribu hektare guna mencegah penyimpangan anggaran senilai Rp9,95 triliun. Langkah ini diambil untuk memastikan kualitas bibit komoditas strategis, seperti kelapa, kopi, dan kakao, tetap terjaga demi produktivitas jangka panjang.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pihaknya menggandeng sejumlah lembaga penegak hukum, mulai dari Satgas Pangan Polri, TNI, hingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kolaborasi ini bertujuan mengawal proses pengadaan hingga distribusi bibit agar tepat sasaran dan bebas dari praktik penyalahgunaan wewenang.
“Kami koordinasi bukan saja dengan KPK, ada kepolisian, ada kejaksaan, semua kita bahu-membahu mencegah penyalahgunaan wewenang,” ujar Amran di Jakarta, Rabu (17/6).
Amran menekankan pentingnya kualitas bibit karena kesalahan di awal penanaman akan berdampak pada hasil panen selama puluhan tahun. Ia mencontohkan tanaman kelapa yang memiliki masa produktif hingga 60 tahun, sehingga kualitas bibit menjadi penentu utama keberhasilan investasi nasional di sektor perkebunan.
“Satu kali tanam, seperti kelapa itu bisa panen sampai 30 sampai 60 tahun. Jadi ini kita kawal betul. Kalau salah di pembibitan, akan salah 30 tahun. Salah di pembibitan, akan salah 60 tahun,” tegasnya.
Untuk meningkatkan efisiensi, Kementan kini menerapkan strategi pembibitan berbasis lokasi atau sentra di daerah tujuan. Kebijakan ini diambil agar bibit tidak perlu dikirim dari jarak jauh yang berisiko merusak kualitas, sekaligus menekan biaya logistik.
“Cara distribusi pembibitannya di tempat situ, supaya tidak diangkut dari Jawa ke Sulawesi Selatan atau dari Sulawesi Selatan ke Papua. Ahlinya yang kita datangkan. Jadi lebih hemat dan efisien,” jelas Amran.
Selain itu, penyaluran bantuan bibit juga disesuaikan dengan karakteristik agroklimat dan budaya bertani masyarakat setempat. Amran menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memaksakan komoditas tertentu di wilayah yang tidak sesuai dengan kebiasaan budidaya petani lokal.
Program yang berjalan selama tiga tahun ini ditargetkan mulai menunjukkan hasil signifikan dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Sebagian bibit telah disalurkan sejak tahun lalu, sementara untuk tahun ini, proses pembibitan masih berlangsung dan ditargetkan mulai ditanam pada akhir tahun.



















