Jakarta – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diproyeksikan mencatatkan kinerja keuangan yang lebih stabil dan berkelanjutan sepanjang paruh kedua tahun 2026.
Optimisme ini muncul seiring dengan pergeseran mesin pertumbuhan perusahaan dari sektor emas menuju sektor nikel yang kini menunjukkan kontribusi signifikan.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Hasan Barakwan dalam riset tertanggal 2 September 2026, mempertahankan rekomendasi beli atau buy untuk saham ANTM dengan target harga di level Rp 4.700 per lembar saham.
Hasan menilai kualitas laba emiten pelat merah ini mengalami peningkatan kualitas yang nyata seiring dengan membaiknya margin grup secara keseluruhan.
“Kami melihat komposisi laba saat ini lebih seimbang dan berkelanjutan memasuki paruh kedua 2026,” ungkap Hasan Barakwan dalam risetnya.
Pernyataan tersebut merujuk pada normalisasi aktivitas perdagangan emas yang sebelumnya sempat melonjak tinggi pada semester I 2026.
Meskipun bisnis emas mulai melandai, perusahaan dinilai memiliki ketahanan karena integrasi portofolio bisnis yang semakin matang.
“Penguatan tajam profitabilitas nikel menyoroti manfaat portofolio ANTM yang terintegrasi,” tambah Hasan Barakwan.
Data operasional menunjukkan lonjakan signifikan pada segmen nikel, di mana penjualan feronikel pada kuartal II 2026 melonjak 71% secara kuartalan menjadi 4.802 ton nikel.
Selain volume, peningkatan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) bijih nikel sebesar 22% secara kuartalan menjadi US$81,6 per wet metric ton (wmt) turut memperkuat posisi keuangan perusahaan.
Di sisi lain, kinerja keuangan ANTM pada semester I 2026 mencatatkan capaian impresif dengan pendapatan mencapai Rp 62,7 triliun atau tumbuh 6% secara tahunan.
Laba bersih perseroan bahkan melesat 36% menjadi Rp 6,39 triliun, angka yang melampaui ekspektasi konsensus pasar maupun proyeksi internal sekuritas.
Pencapaian laba bersih tersebut tercatat telah memenuhi 67,8% dari target tahunan yang dipatok oleh Maybank Sekuritas.
Sementara itu, bisnis lainnya seperti bauksit dan chemical grade alumina (CGA) turut memberikan kontribusi positif dengan pertumbuhan volume masing-masing sebesar 23% dan 10% secara tahunan.
Meskipun terdapat normalisasi pada segmen logam mulia, Hasan meyakini tren laba jangka menengah perusahaan tetap solid.
“Volume dan harga nikel yang membaik seharusnya sebagian mengimbangi normalisasi tersebut, menjaga tren laba jangka menengah kami secara umum tetap utuh dan mendukung valuasi yang tidak berubah,” tegas Hasan Barakwan.
Hingga akhir tahun 2026, perusahaan diprediksi mampu mengantongi pendapatan sebesar Rp 130,53 triliun dengan proyeksi laba bersih mencapai Rp 9,26 triliun.
Proyeksi pertumbuhan berlanjut pada tahun 2027 dengan estimasi pendapatan sebesar Rp 136,54 triliun dan laba bersih di angka Rp 10,14 triliun.
Pada penutupan perdagangan Jumat (4/9/2026), saham ANTM berada di level Rp 3.120 per saham setelah mengalami koreksi tipis sebesar 0,95%.




















