Pemerintah Intervensi Pasar Obligasi Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

persen

purbaya-ungkap-serapan-dana-intervensi-obligasi-baru-rp600-m
Purbaya Ungkap Serapan Dana Intervensi Obligasi Baru Rp600 M

Jakarta – Pemerintah memastikan kondisi pasar obligasi domestik masih dalam kategori terkendali, sehingga belum memerlukan aktivasi mekanisme Bond Stabilization Framework (BSF). Langkah stabilisasi saat ini masih mengandalkan skema manajemen kas rutin.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan intervensi di pasar obligasi sejak Kamis pekan lalu. Meski pemerintah menyiapkan dana hingga Rp2 triliun per hari untuk menyerap obligasi, realisasi di lapangan menunjukkan angka yang jauh lebih rendah.

“Kemarin saja saya sudah targetkan serap Rp2 triliun, hanya dapat Rp600 miliar. Artinya yang jual juga sedikit sebetulnya,” ujar Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (19/5).

Menurut Purbaya, intervensi ini bertujuan untuk menjaga harga obligasi tetap stabil dan menciptakan sentimen positif bagi investor asing. Ia menegaskan bahwa dana yang dikucurkan bukanlah pengeluaran yang hilang, melainkan strategi manajemen keuangan untuk memutar arus modal agar nilai tukar rupiah tetap terjaga.

Terkait opsi penggunaan BSF, Purbaya menilai situasi ekonomi saat ini belum cukup mendesak untuk melibatkan pihak lain dalam kerangka kerja tersebut.

“Kalau framework nanti saya panggil SMI dan lain-lain untuk ikut, tapi sekarang belum separah itu keadaannya, masih relatif lumayan lah,” jelasnya.

Langkah intervensi ini dilakukan di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah. Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (19/5) pukul 14.41 WIB, rupiah tercatat melemah 52 poin atau 0,29 persen ke level Rp17.720 per dolar AS. Pemerintah berharap melalui langkah ini, stabilitas nilai tukar dapat kembali terjaga dalam waktu dekat.

Rekomendasi