Pentol dan Es Krim Ungguli Belanja Online dalam Transaksi OVO

persen

Jakarta – Tren pembayaran digital di Indonesia menunjukkan pergeseran signifikan dari transaksi belanja daring berskala besar menjadi transaksi harian bernilai kecil. Platform pembayaran OVO mencatat bahwa jajanan pasar seperti pentol, es krim, crepes, hingga paket nasi ayam kini menjadi kontributor utama dalam ekosistem transaksi luring atau offline perusahaan. Dominasi ini dipicu oleh penyebaran luas penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di berbagai lapisan usaha mikro hingga kecil.

Berdasarkan data internal OVO per Mei 2026, kategori makanan dan minuman (F&B) menduduki posisi puncak dengan menyumbang 36,7 persen dari total transaksi offline. Angka ini menegaskan bahwa pembayaran digital telah merambah ke aktivitas ekonomi ritel yang paling mendasar dalam keseharian masyarakat.

Head of Strategy, Integrated Marketing Communication, Transport, OVO dan Bank, Asep Haekal, menjelaskan bahwa perilaku konsumen saat ini lebih mengutamakan kepraktisan dalam bertransaksi rutin. Selain sektor F&B, masyarakat juga semakin sering memanfaatkan platform digital untuk pembayaran tagihan utilitas, layanan jasa, ritel, hingga kebutuhan pokok sehari-hari.

Data historis selama lima tahun terakhir menunjukkan transformasi pola konsumsi yang cukup tajam. Jika pada tahun 2021 transaksi didominasi oleh merchant online sebesar 68 persen, pergeseran terjadi secara drastis pada 2025 di mana 69 persen transaksi justru dilakukan melalui merchant offline. Secara akumulatif, total volume transaksi OVO dalam periode tersebut tercatat melonjak hingga 77 persen dibandingkan tahun 2021.

Meskipun memberikan efisiensi, kemudahan transaksi digital membawa tantangan psikologis tersendiri bagi pengguna. Haekal mengingatkan bahwa kecepatan dalam bertransaksi berpotensi membuat pengguna kehilangan kontrol atas besaran pengeluaran yang dilakukan. Oleh karena itu, literasi keuangan menjadi faktor krusial bagi setiap pengguna untuk tetap sadar akan pola pengeluaran mereka.

Senada dengan hal tersebut, Founder Finansialku sekaligus Certified Financial Planner (CFP), Melvin Mumpuni, menyatakan bahwa gaya hidup nontunai atau cashless sebenarnya tidak perlu dihindari selama disertai dengan manajemen keuangan yang sehat. Menurutnya, pengeluaran kecil yang bersifat impulsif, jika dilakukan setiap hari, akan terakumulasi menjadi beban finansial yang signifikan di akhir bulan dan berisiko memicu fenomena gaji yang habis tanpa sisa.

Pakar keuangan menyarankan masyarakat untuk menerapkan manajemen anggaran yang disiplin di tengah kemudahan transaksi digital. Langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain adalah rutin memeriksa riwayat transaksi, menetapkan batas anggaran harian, serta mampu membedakan secara tegas antara kebutuhan pokok dan keinginan sesaat. Evaluasi berkala terhadap riwayat transaksi digital dinilai sangat efektif untuk mendeteksi kebocoran anggaran yang sering kali luput dari perhatian akibat nominalnya yang terlihat kecil. Dengan pendekatan yang terukur, teknologi pembayaran digital dapat dioptimalkan sebagai alat pendukung efisiensi keuangan, bukan justru menjadi pemicu pemborosan yang tidak terkendali.

Rekomendasi