Jakarta – Meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memberikan sentimen positif bagi stabilitas pasar keuangan Indonesia. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menyatakan bahwa prospek perdamaian tersebut berhasil meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset domestik, yang tercermin dari masuknya arus modal asing atau capital inflow ke dalam negeri.
Faisal menjelaskan bahwa pasar keuangan tidak hanya digerakkan oleh fundamental ekonomi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh sentimen global. Penurunan risiko geopolitik ini berdampak langsung pada merosotnya harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP). Penurunan harga komoditas energi tersebut menjadi indikator bagi investor bahwa risiko global mulai melandai, sehingga pasar saham domestik yang sebelumnya sempat tertekan kini mulai menunjukkan pemulihan.
Keyakinan investor terhadap pasar Indonesia juga diperkuat oleh kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Indonesia (BI). Keputusan BI untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin dinilai sebagai langkah strategis yang efektif dalam menjaga daya tarik pasar. Kombinasi antara meredanya ketegangan global dan pengetatan kebijakan moneter domestik memberikan fondasi bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk kembali ke level di atas 6.000, setelah sebelumnya sempat terkoreksi ke angka 5.000-an.
Di sisi lain, pasar uang mencatat dinamika yang berbeda. Pada perdagangan Rabu (17/6/2026), nilai tukar rupiah ditutup melemah 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp 17.762 per dolar AS. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa pelemahan ini dipengaruhi oleh ketidakpastian jangka pendek terkait proses pemulihan pasokan energi global serta respons investor terhadap kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Ibrahim menambahkan bahwa pelaku pasar saat ini sangat mencermati arah kebijakan moneter The Fed, terutama terkait proyeksi suku bunga ke depan. Selain itu, sikap Israel yang belum sepenuhnya mendukung kesepakatan damai antara AS dan Iran dinilai masih menjadi faktor risiko yang memicu kehati-hatian investor di pasar global.
Kendati demikian, dari sisi domestik, Indonesia dinilai memiliki ketahanan yang cukup baik dalam menghadapi gejolak energi global. Pemerintah telah melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah melalui kontrak jangka panjang dengan berbagai negara. Strategi ini dipandang mampu menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu kawasan yang rentan terhadap konflik.
Saat ini, fokus pelaku pasar juga tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 17–18 Juni 2026. Langkah BI dalam mempertahankan kebijakan moneter yang ketat dipandang sebagai bukti komitmen otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi. Untuk perdagangan Kamis (18/6/2026), rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif di rentang Rp 17.760 hingga Rp 17.800 per dolar AS.























