Suku Bunga BI Bertahan, Saham Properti Tetap Menjadi Pilihan Investasi

persen

Jakarta – Keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur April 2026 dinilai membawa dampak netral bagi kinerja emiten sektor properti. Kondisi ini diproyeksikan membuat kinerja perusahaan properti cenderung stabil hingga tumbuh moderat sepanjang tahun 2026.

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai posisi suku bunga tersebut menjaga beban cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) agar tidak memburuk. Namun, level bunga saat ini belum cukup rendah untuk memicu lonjakan permintaan hunian secara signifikan.

Program pemerintah seperti pembangunan 3 juta rumah serta insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga 2027 menjadi sentimen pendukung utama. Insentif ini dinilai efektif menyasar segmen hunian dengan rentang harga Rp 1 miliar hingga Rp 3 miliar.

Menurut Abida, segmen menengah ke atas menunjukkan ketahanan lebih baik karena mayoritas transaksi dilakukan secara tunai tanpa ketergantungan pada KPR. Untuk strategi investasi, ia mencatat BSDE dan SMRA memiliki strategi agresif dalam pemasaran, CTRA unggul dari sisi skala, sementara PWON dinilai defensif berkat pendapatan berulang (recurring income).

Di sisi lain, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyoroti tantangan eksternal berupa tensi geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengerek harga energi. Kondisi ini menyebabkan masyarakat cenderung menahan konsumsi barang mewah dan tidak tergesa-gesa mengambil kredit sejak masa pandemi.

Nico menyarankan investor untuk melirik saham dengan dividend yield di atas 5%. Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa sektor properti masih memiliki resiliensi berkat kebijakan pemerintah. Pertumbuhan kredit sektor ini yang berada di kisaran 9% menunjukkan permintaan KPR masih tertopang oleh stabilitas suku bunga.

Terkait pergerakan pasar, indeks IDX Properties and Real Estate mencatatkan koreksi 16,17% secara year to date (YTD) pasca reli tajam pada 2025. Koreksi ini dipicu oleh aksi ambil untung investor serta aliran keluar dana asing pada saham-saham seperti CTRA, BSDE, dan SMRA.

Sebaliknya, saham seperti PWON dan DMAS dianggap lebih defensif karena dukungan pendapatan dari penyewaan mal dan lahan kawasan industri. Bagi investor yang mengejar capital gain, momentum saat ini dinilai tepat untuk masuk karena valuasi saham properti yang sudah jauh lebih wajar dan terdiskon terhadap RNAV.

Abida merekomendasikan beli untuk saham BSDE dengan target harga Rp 1.450, CTRA Rp 1.600, SMRA Rp 800, serta PWON di level Rp 5.640 per saham.

Rekomendasi