Proyeksi Penjualan Alat Berat, Simak Prospek Saham UNTR, KOBX, INTA

persen

Proyeksi Penjualan Alat Berat, Simak Prospek Saham UNTR, KOBX, INTA

Jakarta – Pasar alat berat di Indonesia diproyeksikan tumbuh moderat hingga akhir tahun 2026 di tengah tantangan kebijakan sektor pertambangan.

Penyesuaian kuota dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi faktor utama yang memicu perusahaan tambang menunda ekspansi serta pembelian unit baru.

Kondisi pasar saat ini cenderung konsolidatif akibat tekanan biaya operasional yang dipicu oleh fluktuasi harga bahan bakar minyak.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menyatakan bahwa prospek penjualan hingga akhir tahun diperkirakan cenderung moderat dan konsolidatif, Rabu (2/9/2026).

David menekankan bahwa efisiensi operasional dan diversifikasi sektor menjadi kunci bagi emiten untuk menjaga kinerja di tengah tantangan tersebut.

Perbedaan strategi portofolio terlihat jelas dari capaian kinerja perusahaan yang beragam sepanjang kuartal II-2026.

PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) mencatatkan pertumbuhan penjualan unit sebesar 47% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Keberhasilan KOBX didorong oleh ekspansi agresif ke sektor non-batubara, seperti nikel, quarry, konstruksi, dan logistik.

Sebaliknya, PT Intraco Penta Tbk (INTA) mengalami penurunan penjualan sebesar 11% secara tahunan pada periode yang sama.

Sementara itu, PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan penurunan penjualan barang sebesar 27,83% secara tahunan menjadi Rp28,13 triliun pada semester I-2026.

Menurut David, perbedaan performa ini berakar pada diversifikasi portofolio produk dan karakteristik basis konsumen.

Emiten dengan eksposur tinggi pada alat berat heavy-duty untuk pertambangan besar menjadi pihak yang paling sensitif terhadap kebijakan RKAB.

Namun, sektor non-pertambangan dinilai mampu menjadi penyangga permintaan nasional dengan kontribusi mencapai 25% hingga 35%.

David menambahkan, peran sektor non-tambang sangat vital sebagai pengimbang dan berpotensi menopang 25% hingga 35% dari total volume penjualan alat berat nasional.

Peluang pemulihan pada paruh kedua 2026 masih terbuka seiring dengan percepatan belanja infrastruktur pemerintah dan perkembangan proyek mineral hijau.

Bagi investor, UNTR tetap menjadi pilihan defensif karena fundamental yang kuat serta diversifikasi bisnis yang mencakup energi hijau hingga kontraktor tambang.

KOBX dinilai lebih menarik bagi investor yang mencari strategi pertumbuhan taktis melalui diversifikasi ke sektor di luar batubara.

Sementara itu, riset dari BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan adanya perbaikan aktivitas operasional pada UNTR di bulan Juli 2026.

Produksi batubara PAMA tercatat mencapai 13 juta ton atau naik 10% secara bulanan, didukung kondisi cuaca yang lebih kondusif.

Penjualan alat berat Komatsu milik UNTR juga mengalami peningkatan bulanan sebesar 31% menjadi 399 unit pada Juli 2026.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta, menegaskan bahwa UNTR tetap menjadi pilihan utama mereka untuk mendapatkan eksposur terhadap tema kenaikan revisi RKAB.

Lembaga tersebut mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp30.600 per saham, meski investor tetap diingatkan untuk mencermati risiko logistik serta volatilitas harga komoditas.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar