Bitcoin Gagal Bertahan di US$ 80.000, Investor Cermati Arah The Fed

Ikhwan Setiawan

Bitcoin Gagal Bertahan di US$ 80.000, Investor Cermati Arah The Fed

Jakarta – Pasar mata uang kripto global tengah berada dalam fase krusial setelah Bitcoin (BTC) gagal mempertahankan posisinya di atas level psikologis US$ 80.000.

Per Rabu (2/9/2026), Bitcoin tercatat diperdagangkan di kisaran harga US$ 77.597.

Pelemahan ini terjadi setelah aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar tersebut sempat mencatatkan reli impresif hingga menembus angka US$ 81.000 pada pekan lalu.

CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai pergerakan harga saat ini merupakan bentuk konsolidasi pasar yang wajar setelah reli kuat yang terjadi sepanjang paruh kedua Agustus.

Kondisi tersebut sekaligus menggeser fokus investor dari optimisme penembusan level harga menjadi kekhawatiran terkait ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat.

Pasar kini tengah menguji apakah level US$ 80.000 dapat direbut kembali dan dipertahankan dalam jangka menengah.

Sejumlah analis sebelumnya telah memberikan peringatan mengenai kerentanan Bitcoin terhadap koreksi harga.

Posisi long yang semakin padat di pasar berjangka serta volume perdagangan yang mulai melandai menjadi pemicu utama risiko tersebut.

Sentimen negatif ini semakin diperkuat oleh pernyataan Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam pidatonya di Jackson Hole pada 28 Agustus lalu.

Warsh menegaskan bahwa inflasi di Amerika Serikat saat ini masih berada di atas target 2%.

Ia menyatakan bahwa perkembangan inflasi dalam beberapa bulan terakhir belum menunjukkan tren perbaikan yang cukup signifikan.

Dalam keterangannya, Yudhono Rawis menyebutkan bahwa saat ini pasar kripto sedang memasuki fase pembuktian.

“Setelah gagal bertahan di atas US$ 80.000, pasar sekarang masuk ke fase pembuktian. Investor perlu melihat apakah permintaan spot dan arus dana institusional tetap mampu menyerap volatilitas yang datang dari kebijakan The Fed,” ujar Yudhono Rawis, Rabu (2/9/2026).

Faktor fundamental makroekonomi kini menjadi penentu utama arah pergerakan aset kripto ke depan.

Sebelumnya, arus modal institusional melalui exchange-traded fund (ETF) kripto menjadi motor penggerak reli Bitcoin sepanjang Agustus.

Data mencatat arus masuk bersih atau inflow ke ETF Bitcoin dan Ethereum mencapai US$ 2,71 miliar pada pekan yang berakhir 24 Agustus 2026.

Namun, tren positif tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda pendinginan dalam beberapa hari terakhir.

Data dari Farside Investors menunjukkan adanya net outflow sebesar US$ 201,9 juta pada ETF Bitcoin spot AS per 28 Agustus.

Perubahan aliran modal ini menjadi indikator penting bagi para pelaku pasar dalam memprediksi sentimen jangka pendek.

Selanjutnya, pasar akan menantikan rilis data ketenagakerjaan AS pada 4 September dan data Consumer Price Index (CPI) pada 11 September.

Rangkaian data tersebut akan menjadi acuan utama bagi Federal Open Market Committee (FOMC) dalam pertemuan mereka pada 15-16 September 2026 mendatang.

Yudhono memproyeksikan bahwa area US$ 80.000 hingga US$ 81.000 akan tetap menjadi zona krusial bagi Bitcoin.

Keberhasilan menembus zona tersebut diyakini dapat mengembalikan momentum bullish yang sempat hilang.

Selama Bitcoin belum mampu menembus batasan tersebut, pasar kemungkinan besar akan terus bergerak dalam fase konsolidasi.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar