Rupiah Melemah ke Rp 17.770, Won Perkasa di Tengah Pasar

Kholida Rahman

Rupiah Melemah ke Rp 17.770, Won Perkasa di Tengah Pasar

Jakarta – Nilai tukar rupiah di pasar spot mencatatkan tren pelemahan pada perdagangan tengah hari ini, Rabu (2/9/2026).

Mata uang Garuda tersebut berada di level Rp 17.770 per dolar Amerika Serikat (AS).

Posisi ini menunjukkan depresiasi sebesar 0,15% jika dibandingkan dengan angka penutupan pada hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.744 per dolar AS.

Kondisi pasar keuangan domestik ini sejalan dengan dinamika yang terjadi di kawasan regional.

Mayoritas mata uang di Asia terpantau melemah terhadap dolar AS hingga pukul 13.00 WIB.

Peso Filipina mencatatkan kinerja terlemah di Asia dengan penurunan nilai tukar sebesar 0,28%.

Sentimen negatif juga membayangi mata uang lainnya di kawasan tersebut.

Dolar Taiwan tercatat ambles 0,27% dan ringgit Malaysia tertekan 0,1% terhadap mata uang Paman Sam.

Tekanan serupa dialami oleh rupee India yang tergelincir 0,01% pada perdagangan siang ini.

Baht Thailand juga mengalami koreksi tipis sebesar 0,003% di pasar spot.

Sementara itu, dolar Hong Kong melemah tipis 0,001% terhadap the greenback.

Di sisi lain, terdapat anomali pada pergerakan won Korea Selatan yang justru menunjukkan performa impresif.

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melesat 0,42%.

Dinamika yang berbeda juga ditunjukkan oleh mata uang Jepang dan Singapura.

Yen Jepang tercatat tertekan 0,24% di tengah fluktuasi pasar global.

Dolar Singapura justru menanjak 0,04% di tengah sentimen pasar yang beragam.

Yuan China terpantau melemah tipis 0,01% hingga akhir sesi perdagangan tengah hari ini.

Pelemahan rupiah pada hari ini mencerminkan tingginya volatilitas yang dipengaruhi oleh sentimen eksternal.

Para pelaku pasar saat ini tengah mencermati kebijakan moneter global yang berdampak langsung pada nilai tukar mata uang negara berkembang.

Faktor ketidakpastian ekonomi global sering kali menjadi pemicu utama investor menarik asetnya dari pasar berkembang menuju instrumen yang lebih aman.

Kondisi ini menuntut kewaspadaan dari otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang kuat.

Pergerakan nilai tukar regional yang cenderung seragam menunjukkan adanya tekanan dolar AS yang dominan di pasar uang Asia.

Analis pasar terus memantau indikator ekonomi makro yang mungkin akan memengaruhi arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Hingga saat ini, belum ada intervensi signifikan yang dilaporkan untuk menahan laju pelemahan tersebut.

Investor diperkirakan akan tetap memantau perkembangan data ekonomi dari AS yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Data tersebut diyakini akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga global yang berimbas pada penguatan atau pelemahan mata uang negara berkembang.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar