Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Kamis, melemah ke posisi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS. Pelemahan ini setara 106 poin atau 0,62 persen, dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan tekanan utama datang dari kenaikan harga energi dunia. Ia menyebut lonjakan harga minyak dipicu memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada jalur distribusi energi di Selat Hormuz.
“Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat berlanjutnya perang AS dan Iran yang berimbas pada penutupan Selat Hormuz,” kata Rully.
Konflik kedua negara itu memicu gangguan pasokan energi global di jalur strategis tersebut. Upaya negosiasi damai yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan juga tidak berjalan karena Iran tak hadir.
Ketidakhadiran Iran disebut dipicu blokade yang dilakukan Amerika Serikat di kawasan itu. Amerika Serikat kemudian menetapkan gencatan senjata sepihak, namun tetap menekan Iran soal tarif dan pengayaan uranium.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilai proses negosiasi menghadapi hambatan serius. Ia juga menyinggung adanya sikap yang tidak konsisten dari pihak AS.
Menurut dia, ada kontradiksi antara ucapan dan tindakan dalam upaya perdamaian. Ketidakpastian soal gencatan senjata dan risiko terganggunya pasokan energi global ikut mendorong harga minyak naik.
Harga minyak mentah Brent tercatat di level 102,25 dolar AS per barel. Adapun West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 93,47 dolar AS per barel.
Dari dalam negeri, rupiah juga mendapat tekanan akibat aksi jual obligasi pemerintah di berbagai tenor. Kondisi itu mendorong kenaikan imbal hasil obligasi, termasuk tenor 10 tahun yang naik ke 6,73 persen.
Kenaikan imbal hasil itu mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi dan arah kebijakan ke depan. Di sisi lain, kurs referensi Bank Indonesia melalui JISDOR juga melemah ke Rp17.308 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.179 per dolar AS.




















