Sentimen Geopolitik Kembali Bayangi Pergerakan IHSG Pekan Ini

persen

Jakarta – Geopolitik di Timur Tengah diprediksi menjadi faktor dominan yang membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan ini. Konflik yang terus berkembang, terutama di sekitar Selat Hormuz, Iran, membuat investor cenderung bersikap reaktif terhadap dinamika eksternal tersebut.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menyatakan bahwa meskipun sejumlah data ekonomi krusial akan segera dirilis, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi penentu utama arah pasar.

“Pasar kemungkinan masih akan bergerak dalam rentang support 7.308 dan resistance 7.773,” ujar Imam dalam siaran pers, Senin (20/4/2026).

Selain isu global, investor juga menantikan sejumlah data ekonomi penting dari luar negeri. Di Cina, pasar mencermati rilis Loan Prime Rate (LPR) 1 tahun dan 5 tahun untuk mengukur arah kebijakan moneter negara tersebut. Konsensus pasar memperkirakan angka LPR berada di posisi 3,0 persen dan 3,5 persen.

Sementara dari Amerika Serikat, data penjualan ritel bulan Maret menjadi sorotan utama. Data ini dinilai krusial karena mencerminkan daya beli masyarakat yang menjadi mesin penggerak ekonomi AS. Konsensus memproyeksikan adanya pertumbuhan sebesar 1,3 persen secara bulanan.

Dari dalam negeri, keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) akan menjadi fokus utama pelaku pasar. BI diprediksi tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen.

Langkah ini dinilai sebagai upaya strategis BI untuk menjaga stabilitas inflasi serta nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar global. Dengan berbagai sentimen tersebut, IHSG diperkirakan akan terus mencermati perkembangan terkini, baik dari kebijakan moneter global maupun kondisi geopolitik di Timur Tengah.

Rekomendasi