Jakarta – Kesenjangan kinerja yang signifikan mewarnai sektor konstruksi nasional sepanjang 2025, di mana emiten swasta mencatatkan pertumbuhan pesat, sementara perusahaan konstruksi pelat merah (BUMN) justru masih terpuruk dalam kerugian besar.
Emiten konstruksi swasta seperti PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) dan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) mencatatkan capaian finansial yang impresif. TOTL membukukan pendapatan sebesar Rp 3,90 triliun atau naik 26,35 persen, yang diikuti lonjakan laba bersih 56,09 persen menjadi Rp 414,39 miliar. Senada, NRCA mencatatkan laba bersih sebesar Rp 175,52 miliar, melonjak 115,1 persen secara tahunan.
Sebaliknya, kondisi keuangan emiten BUMN karya justru memburuk. PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 3,92 triliun, sementara PT PP Tbk (PTPP) membukukan rugi Rp 6,07 triliun. Kerugian signifikan juga dialami PT Adhi Karya Tbk (ADHI) sebesar Rp 5,4 triliun dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang mencatatkan rugi hingga Rp 9,7 triliun.
Direktur Reliance Sekuritas, Reza Priyambada, mengungkapkan bahwa perbedaan performa ini dipicu oleh kelincahan emiten swasta dalam mengelola keuangan serta perolehan kontrak yang lebih stabil.
“Berbeda dengan BUMN karya yang masih berjuang melakukan restrukturisasi utang, emiten swasta cenderung lebih lincah dan memiliki kondisi keuangan yang lebih sehat,” ujar Reza.
Memasuki tahun 2026, prospek sektor konstruksi diprediksi mulai menunjukkan pemulihan. Sejumlah proyek strategis seperti pembangunan pusat data, pergudangan, fasilitas komersial, hingga pembangunan smelter di luar Jawa menjadi tumpuan pendapatan bagi emiten swasta yang memiliki spesialisasi konstruksi industri.
Reza menambahkan, geliat pembangunan gedung bertingkat seperti apartemen premium dan perkantoran di kota-kota besar juga menjadi sentimen positif bagi perusahaan seperti TOTL.
Meski demikian, sektor konstruksi masih harus menghadapi sejumlah tantangan berat pada 2026. Tekanan margin keuntungan diprediksi masih akan berlanjut akibat fluktuasi harga material seperti baja dan semen.
Selain itu, biaya pinjaman modal kerja tetap menjadi beban karena suku bunga yang masih relatif tinggi. Tantangan lain yang harus diantisipasi adalah kewajiban penerapan standar ESG dan tuntutan penggunaan material ramah lingkungan yang mengharuskan emiten berinvestasi lebih besar pada teknologi konstruksi baru.




















