Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan terus mengalami volatilitas tinggi sepanjang pekan ini.
Pelaku pasar modal saat ini tengah memantau ketat pergerakan arus dana asing serta arah kebijakan bank sentral global.
Selain itu, fluktuasi harga komoditas dunia juga menjadi faktor penentu yang dapat memengaruhi sentimen investor di bursa domestik.
Guru Besar Universitas Indonesia sekaligus pengamat pasar modal, Budi Frensidy, menyatakan bahwa IHSG cenderung bergerak konsolidatif pada rentang 6.400 hingga 6.700.
“IHSG masih cenderung konsolidatif di kisaran tersebut,” ujarnya seperti dikutip dari keterangan resmi, Senin (14/9/2026).
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, IHSG berakhir di level 6.541 setelah mengalami koreksi sebesar 1,43% dalam satu pekan.
Fokus utama para pelaku pasar saat ini tertuju pada keputusan Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan berlangsung pada 15-16 September.
Selain kebijakan moneter, investor juga mewaspadai tingginya imbal hasil US Treasury serta tren kenaikan harga minyak mentah dunia.
Meskipun arus dana asing mulai masuk kembali, Budi menilai bahwa aliran modal tersebut belum merata ke seluruh lini saham.
“Foreign inflow bisa menjadi katalis kuat jika berlangsung konsisten karena asing biasanya masuk ke saham-saham big caps dan likuid,” kata Budi.
Saat ini, investor asing terpantau masih melakukan rotasi portofolio dengan mengakumulasi saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBRI, BMRI, TLKM, dan INCO.
Di sisi lain, maraknya aksi korporasi berupa rights issue dipandang tidak selalu menjadi sentimen negatif bagi pasar.
Dampaknya sangat bergantung pada penggunaan dana yang dihimpun emiten, apakah untuk ekspansi produktif atau sekadar menutup utang.
Data menunjukkan bahwa hingga akhir Juli, nilai rights issue di Bursa Efek Indonesia telah mencapai sekitar Rp 15,8 triliun.
Sementara itu, pengamat pasar modal, William Hartanto, memproyeksikan potensi technical rebound dengan level dukungan di 6.454.
William menyebutkan bahwa level resistensi untuk IHSG saat ini berada di angka 6.600.
Terkait isu domestik, rencana aksi demonstrasi Hari Tani pada 24 September mendatang diperkirakan tidak akan berdampak signifikan.
“Pasar biasanya tidak terlalu bereaksi terhadap demonstrasi satu hari,” jelas Budi.
Namun, risiko stabilitas pasar bisa meningkat jika aksi tersebut berlangsung berkepanjangan dan memicu kekhawatiran kebijakan ekonomi.
Di sisi global, Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, menyoroti dampak kenaikan harga minyak terhadap ketahanan fiskal Indonesia.
Sebagai importir neto minyak, kenaikan harga komoditas ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan kebutuhan devisa.
Meski demikian, Hans mencatat adanya pemulihan pada nilai tukar rupiah dari level terendahnya di angka 18.200 per dolar AS.
Untuk sektor energi, kenaikan harga minyak dan batubara diperkirakan akan menjadi katalis positif bagi emiten seperti MEDC, AKRA, PGAS, ADRO, hingga ITMG.
Dalam jangka panjang, Budi memproyeksikan IHSG berpotensi mencapai level 6.800–7.200 hingga akhir tahun 2026.
Skenario bullish bahkan menargetkan indeks berada di angka 7.400 dengan dukungan stabilitas rupiah dan penurunan suku bunga global.

















