Strategi Emiten Tambang Perluas Aset ke Luar Negeri dan Prospeknya

Rayhan Akhari

Strategi Emiten Tambang Perluas Aset ke Luar Negeri dan Prospeknya

Jakarta – Sejumlah perusahaan terbuka di Indonesia kini semakin agresif memperluas cakupan operasional mereka dengan mengakuisisi aset pertambangan di luar negeri.

Langkah strategis ini dilakukan untuk mengamankan cadangan mineral sekaligus melakukan diversifikasi bisnis di tengah dinamika pasar komoditas global.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi salah satu emiten yang telah merealisasikan ekspansi tersebut.

Melalui entitas usahanya, Bumi Resources Australia Pty Ltd (BRA), perusahaan ini resmi mengakuisisi 100% saham Loyal Metals Ltd.

Transaksi tersebut melibatkan dana senilai Rp 1.004.742.244.136,50 atau setara dengan AUD 79.069.731,75.

Langkah serupa juga diambil oleh PT Petrosea Tbk (PTRO) yang mulai merambah industri tambang emas di Papua Nugini.

PTRO telah menyelesaikan proses penawaran mengikat atau binding offer dengan Tolu Minerals Limited pada 20 April 2026.

Dalam aksi korporasi tersebut, perusahaan berhasil meraih convertible note dengan nilai mencapai AUS$ 23,75 juta.

Tidak ingin ketinggalan, PT United Tractors Tbk (UNTR) saat ini tengah memetakan peluang akuisisi tambang mineral di Australia.

Presiden Direktur UNTR, Iwan Hadiantoro, menegaskan bahwa perusahaan memfokuskan pencarian aset di Indonesia dan Australia.

“Jadi kita masih memfokuskan usaha merger dan akuisisi kita untuk Australia dan belum ada rencana untuk pengembangan negara Asia lainnya,” ujar Iwan dalam agenda public expose yang berlangsung Senin (7/9/2026), dikutip dari keterangan resmi perusahaan.

Iwan menjelaskan bahwa Australia dipilih sebagai target utama karena memiliki cadangan sumber daya mineral yang masif dalam skala besar.

Di sisi lain, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dikabarkan tengah menyusun strategi untuk memperluas produksi emas di wilayah Timur Tengah.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai tren ekspansi lintas negara ini sebagai langkah positif untuk jangka menengah hingga panjang.

Menurutnya, diversifikasi ke komoditas mineral kritis sangat krusial di tengah meningkatnya tren elektrifikasi global.

Namun, efektivitas langkah ini sangat bergantung pada eksekusi masing-masing perusahaan di lapangan.

“Kontribusi ke laba umumnya baru terasa 2 hingga 3 tahun setelah akuisisi karena tambang baru butuh waktu ramp up, sehingga dampak jangka pendek seringkali minimal,” papar Abida, Senin (7/9/2026).

Ia menambahkan bahwa terdapat risiko yang harus diantisipasi, seperti potensi pembayaran harga yang terlalu mahal atau kendala regulasi di yurisdiksi asing.

Investor diminta untuk memperhatikan struktur pendanaan akuisisi agar tidak membebani arus kas perusahaan melalui utang berlebih.

Abida menyarankan investor untuk mencermati target harga saham, terutama pada emiten dengan fundamental domestik yang kuat seperti ANTM.

Untuk ANTM, ia memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp 4.900 per saham.

Sementara itu, saham UNTR juga mendapatkan rekomendasi buy dengan target harga di level Rp 30.600 per saham.

Kekuatan arus kas bebas yang dimiliki UNTR dinilai mampu meminimalisasi risiko dilusi saham saat melakukan ekspansi di Australia.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar