New York – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kecaman keras terhadap Paus Leo XIV. Ketegangan ini dipicu oleh kritik pemimpin Vatikan tersebut terkait kebijakan luar negeri AS terhadap Iran.
Dalam pernyataan yang disampaikan di New York pada Senin (13/4/2026), Trump menegaskan bahwa ia tidak membutuhkan sosok Paus yang menentang kebijakan pemerintahannya.
Hubungan AS dan Vatikan memanas setelah Paus Leo XIV secara terbuka menyebut ancaman Amerika Serikat terhadap rakyat Iran sebagai tindakan yang tidak dapat diterima pada awal April 2026.
Pernyataan Paus tersebut muncul sebagai respons atas seruan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang meminta doa bagi para tentara. Dalam sebuah homili, Paus menekankan bahwa keinginan untuk mendominasi tidak sejalan dengan ajaran Yesus Kristus.
Menanggapi hal itu, Trump meluapkan kekesalannya melalui platform TruthSocial. Ia menyinggung berbagai isu global, termasuk kepemilikan senjata nuklir Iran dan kebijakan AS terhadap Venezuela.
“Saya tidak ingin seorang Paus berpikir bahwa baik-baik saja jika Iran memiliki senjata nuklir. Saya tidak ingin seorang Paus menganggap Amerika mengerikan karena menyerang Venezuela,” ujar Trump.
Trump juga menuding Venezuela telah mengirimkan narkoba serta para penjahat ke Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa tindakannya saat ini merupakan mandat dari rakyat yang memilihnya dengan kemenangan telak.
Lebih lanjut, Trump menyindir bahwa Paus Leo XIV tidak akan berada di posisinya saat ini tanpa peran dirinya di Gedung Putih. Ia pun meminta Paus untuk berhenti “menjilat” kelompok kiri radikal dan kembali fokus pada peran keagamaannya.
Perseteruan ini memperlihatkan meningkatnya ketegangan diplomatik antara pemerintah Amerika Serikat dan Vatikan di tengah dinamika geopolitik yang kian kompleks.




















